Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sikap Tauladan Rasulullah Saw di saat Perang Khandaq

source: facebook



Kisah Tauladan Rasulullah Saw pada saat perang Khandaq

 

Kisah Rasulullah Saw - Perang Khandaq diawali dengan bujukan bani Nadir dan Wail kepada para kafilah Arab yang tengah ‘panas’ akibat umat muslim. Karena, mereka tengah kewalahan dengan penjarahan yang dilakukan pasukan muslim, sehingga para kafilah Arab merugi, tak kala melakukan perdagangan ke negeri Yaman.

Selanjutnya, dengan kafilah besar Gathafan yang merupakan penguasa Najd, membantu mereka. Akhirnya, mereka menyiapkan pasukan sebesar 10.000 pasukan dan menuju ke Madinah.

Sementara itu, di Madinah sendiri, Rasulullah Saw dan para sahabat sedang melakukan rapat darurat, menanggapi gerakan besar dari Makkah.

Akhirnya, Salman al-Farisi memberikan ide cemerlang, yang tak ladzim digunakan pada peperangan di Jazirah Arab. Ide yang ingin diberikan beliau adalah, membuat parit yang membentang di sekitar kota Madinah.

Salman diberi tanggung jawab untuk mengatur strategi, membuat rancangan daerah yang akan dilakukan penggalian parit tersebut, dan penempatan pasukan Muslim yang jumlahnya sedikit.

Tercatat, penggalian itu dilakukan 10 hari.

Dalam prosesnya, Rasulullah Saw juga ikut serta dalam pembuatan parit tersebut.

Ketika itu, kota Madinah sedang mengalami musim dingin yang sangat ekstrim. Banyak kaum Muslimin yang tidak memiliki persediaan makanan yang cukup, bahkan ada yang tidak memiliki apa-apa.

Abu Thalhah berkata, “Kami pernah mengeluh kepada Rasulullah Saw, tentang rasa lapar yang kami rasakan. Dan kami selalu mengikat perut (kami) dengan sebuah batu. Begitu pula dengan Rasulullah Saw mengikat perutnya dengan dua buah batu.”

Berkata Anas, “Ketika itu, Rasulullah Saw keluar menyaksikan kaum Muhajirin dan kaum Ansar bersama-sama sedang menggali parit di suatu pagi yang teramat dingin, sedangkan mereka dalam kondisi teramat lapar.”

Dari perkataan dua sahabat di atas, dapat disimpulkan jika kondisi Umat Muslim saat itu sangat tertekan dan kekurangan sumber daya pangan. Hal ini juga ditambah, dengan cuaca yang sangat dingin, yang membuat tubuh mereka terasa membeku (di malam dan pagi hari).

Namun, seperti sosok uswatun khasanah yang terus dicontohkan Rasulullah Saw hingga akhir hayatnya, Beliau tetap saja ikut berpartisipasi dalam penggalian parit besar dan lebar itu. Tanpa menjadi seorang bos yang hanya memerintah dari belakang, Beliau juga ikut andil dalam proses berat tersebut.

Bahkan menurut sahabat Abu Thalhah, perut beliau diganjal dua buah batu, hanya untuk menahan rasa lapar yang melilit. Padahal, para sahabat hanya melilitkan sebuah batu di perut mereka.

 

Hikmah dari sikap Rasulullah Saw di dalam perang Khandaq

Tentu saja ini memiliki banyak fadhilah-fadhilah yang dapat kita petik.

1. Andai kata kita menjadi seseorang yang telah menjadi ‘kepala’ suatu kelompok, tetaplah berfikiran terbuka dan menerima semua pendapat. Lalu, memusyawarahkan semuanya, agar mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

2. Sebagai seorang ‘kepala’, janganlah kita hanya berpangku tangan atas segala problem yang tengah muncul dalam kelompok kita. Berdirilah, bergeraklah, dan bantulah para bawahanmu. Karena, selain itu mempererat rasa kekeluargaan kelompok kita, hal itu juga membersihkan ‘sekat-sekat’ yang membuat para bawahan menjadi ‘penghianat’.

3. Beban seorang ‘kepala’ pastilah lebih berat daripada bawahannya. Namun, jangan memperlihatkan itu dengan sengaja. Terlebih, dengan menjadikan beban itu sebagai alasan untuk melakukan hal-hal egois, atau merugikan kelompok. Tetaplah bertahan, dan lakukan yang terbaik.

Itulah sekelumit kisah yang terjadi saat terjadinya perang Khandaq. Ada pula beberapa kisah lain, yang menunjukkan tentang Mukjizat Rasulullah Saw saat perang Khandaq ini.

Untuk mengetahui tentang Mukjizat Rasulullah Saw saat perang Khandaq, silahkan lihat di sini.

Wallohu’alam

Posting Komentar untuk "Sikap Tauladan Rasulullah Saw di saat Perang Khandaq"

Berlangganan via Email