Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perang Khandaq

source: wikipedia.org




Perang Khandaq

Perang Khandaq - Perang Khandaq juga dikenal sebagai pertempuran al-Ahzab. Perang yang berlangsung pada bulan Syawal 5 H/627 M ini, adalah perang besar kedua yang sangat pelik bagi umat Islam. Selain karena selisih jumlah pasukan yang sangat besar, hingga sumber pangan yang telah menipis, akibat boikot dari kaum Yahudi, bani Quraizhah yang menghianati perjanjian.

 

Penyebab Perang Khandaq

Awal mula penyebab peperangan ini adalah banyak sekali penjarahan yang dilakukan kaum Muslim terhadap rombongan kabilah Makkah yang menuju Yaman atau Syam. Yang mana, hal ini membuat banyak kerugian bagi kabilah-kabilah dagang Makkah, yang notabennya telah menjadi musuh alami umat Islam.

Hal ini ditambah pula dengan tindakan Nabi Muhammad Saw yang memindahkan dua suku terbesar Yahudi (Bani Nadir dan Bani Wail) di Madinah, menuju Khaibar yang terletak di luar kota Madinah. Tentu saja hal ini membuat kecewa para pembesar Yahudi tersebut. Hingga keduanya membuat persekutuan bersama kabilah-kabilah lain untuk menghancurkan Islam, dengan mengepung Madinah.

Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini dalam surah al-Ahzab (artinya, 'sekutu').

 

Peristiwa sebelum pecahnya Perang Khandaq

Pada awal tahun 627 Masehi itu, orang-orang Yahudi dari Bani Nadir bertemu dengan para pemuka Quraisy di Makkah.

Huyayy bin Akhtab, bersama dengan para pemimpin Yahudi lainnya dari Khaibar, melakukan perjalanan untuk sumpah setia dengan Abu Sufyan di Makkah. Karena mereka tahu, jika Abu Sufyan telah menderita kerugian yang sangat besar, pasca penyergapan kaum Muslim terhadap rombongan kabilah dagangnya.

Meskipun sebenarnya, luka itu sedikit terobati karena kemenangan di Perang Uhud, hal itu tetap saja membuat Abu Sufyan tak bisa makan dengan tenang, sebelum melenyapkan duri di kakinya itu.

Menyambut tawaran dari Huyayy bin Akhtab, Abu Sufyan memimpin pasukan gabungan dari kabilah-kabilah Makkah yang terdiri dari 4.000 prajurit, 300 penunggang kuda, dan 1.000-1.500 penunggang unta.

Tak berhenti disitu, untuk memastikan kemenangannya, Bani Nadir mulai merayu para perantau dari wilayah Najd, kabilah Gathafan, dengan menyerahkan hasil perkebunan kurma di Khaibar selama 1 tahun.

Bani Ghatafan yang menguasai Najd pun ikut serta dalam persekutuan ini, dengan membayar setengah dari hasil panen mereka. Ditambah, mereka juga mengirim 2.000 prajurit dan 300 penunggang kuda. Pasukan ini dipimpin oleh Unaina bin Hasan Fazari.

Bani Asad juga setuju untuk bergabung dengan mereka yang dipimpin oleh Thulaihah al-Asadi, (namun kami belum menemukan data berapa jumlah pasukannya).

Dari Bani Sulaim, mereka mengirim 700 pria, karena tak semua pemimpin suku tersebut memberikan bantuannya.

400 orang dari Bani Murrah yang dipimpin oleh Hars bin Auf Murri, juga setuju untuk bergabung.

Lalu, Bani Shuja dengan 700 orang yang dipimpin oleh Sufyan bin Abd Syams juga menanggapi seruan Bani Nadir.

Sementara itu, Bani Amir yang memiliki perjanjian dengan Muhammad, menolak untuk bergabung dengan aliansi besar itu.

Secara total, kekuatan tentara Aliansi tersebut, diperkirakan sekitar 10.000 tentara, dengan 600 kuda. Namun, hal ini tidak disepakati oleh para Ulama dan Sejarawan, karena banyak suku-suku lain yang tak tercatat jelas, apakah mereka mengirim pasukannya atau tidak, dan berapa jumlah pasukan yang dikirim.

 

Kondisi di Madinah, sebelum perang Khandaq

Kabar ini pun tersebar sampai ke Madinah. Setelah mengetahui jumlah kekuatan musuh yang begitu besar, muncul perasaan khawatir di kalangan umat islam.

Rasulullah Saw yang mendengar jika akan ada pasukan besar yang akan menyerbu Madinah, langsung mengumpulkan para sahabat untuk dimintai saran, strategi, dan yang lainnya. Hal ini guna mengantisipasi dan menghadapi rombongan besar musuh yang telah menyiapkan perbekalan perang di luar sana.

Semua orang sangat tertekan, mengingat jumlah pasukan musuh yang berjumlah berkali-kali lipat dari pasukan Muslimin. Ditambah pula, kondisi cuaca yang tengah berada di dalam musim dingin, yang membuat mereka merasa berat untuk pergi berperang. Selain karena menipisnya perbekalan tak kala dimulainya pengepungan, mereka juga kesulitan mengumpulkan bahan pangan.

Lalu, di sinilah muncul ide dari sahabat Salman al-Farisi yang menyarankan agar pasukan Muslim menggali parit di sekitar Madinah demi menghalangi pasukan kafir.

“Wahai Rasulullah, dahulu ketika kami masih di Parsi (Persia), jika kami merasakan takut akan serbuan tentara berkuda musuh, maka kami akan menggali sebuah parit di sekitar kami.”

Menurut Salman, di negeri asal kelahirannya itu, adalah suatu kebiasaan untuk menggali parit, agar menghalangi pasukan musuh. Hal itu juga bagian dari strategi perang.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang siapa Salman al-Farisi, silahkan lihat di sini.

Rasulullah Saw dan anggota majelis pun menyetujui saran Salman al-Farisi tersebut.

Mengingat kota Madinah yang begitu luas, setiap 10 orang diharuskan menggali parit sepanjang 40 meter. Menurut Syauqi Abu Khalil di dalam bukunya Atlas Hadits, umat Muslim berhasil menggali parit sepanjang 5,544 m (5,5 km lebih) dengan lebar parit 4,62 m dan mempunyai kedalaman 3,234 m.

Penggalian parit tersebut membutuhkan waktu selama 10 hari. Sementara dalam penjelasan di dalam Ensiklopedia Islam, penggalian parit tersebut memakan waktu hanya 6 hari.

Dalam prosesnya, tercatat jika Nabi Saw sendiri ikut menggali bersama para sahabat.

Untuk cerita lebih lengkapnya, tentang kisah Rasulullah Saw yang mengharukan saat menggali parit di perang Khandaq, silahkan lihat di sini.

 Atau, jika kamu ingin mengetahui tentang mu'jizat Rasulullah Saw selama masa perang Khandaq, silahkan lihat di sini.

Peristiwa saat terjadinya Perang Khandaq

Pada akhir Maret 627 Masehi, pasukan aliansi yang dipimpin oleh Abu Sufyan berbaris menuju Madinah. Tercatat, jika jumlah pasukan aliansi kabilah Arab dan kaum Yahudi, berjumlah 10.000 orang.

Saat pasukan besar itu sampai di pintu masuk kota Madinah, yang diapit dua bukit, mereka terkejut dan binggung. Di depan mereka, ada parit panjang dan lebar, yang menghalangi mereka merangsek masuk ke Madinah. Ditambah, di seberang parit sana (di dalam kota Madinah) ada pasukan Muslim yang sudah bersiap dengan panah di tangan mereka.

Akhirnya, mereka tidak dapat melewati parit itu. ketika berhadap-hadapan, mereka juga tidak melakukan peperangan seperti biasanya, seperti di tempat terbuka. Karena, setiap kali mereka mencoba menyeberangi parit, mereka selalu dipanah oleh tentara muslim.

Bahkan, jika mereka berhasil menerobos parit besar itu, mereka sudah kelelahan dan menjadi santapan tentara muslim.

Lantaran itu, pasukan sekutu ini mendirikan tenda di seberang parit, dan hanya menggunakan senjata panah untuk menjadi serangan jarak jauh. Hanya sesekali, mereka melancarkan serangan darat, menggunakan pasukan berkuda.

Dengan model peperangan seperti ini, hanya beberapa orang yang mati. Tercatat, hanya enam orang yang mati syahid, sedangkan dari aliansi Quraisy jatuh korban sebanyak 12 orang.

Dalam perang Khandaq ini juga sempat terjadi duel satu lawan satu, yaitu antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr bin Abdu Wudd. Duel ini dimenangkan oleh Ali.

 

Penghinatan Bani Quraizhah

Di tenggara kota Madinah, ada suku Yahudi yang lebih beruntung dari Bani Nadir dan Bani Wail yang direlokasi ke Khaibar. Mereka adalah Bani Quraizhah yang memiliki banyak perkebunan kurma dan benteng kecil yang menjadi tempat perlindungan yang aman.

Saat terjadinya Perang Khandaq, Bani Quraizhah yang sebelumnya telah berjanji akan ikut melindungi Madinah dari pasukan aliansi dan memberikan pasokan pangan, menghianati perjanjian yang telah disepakati dengan Rasulullah Saw tersebut.

Ternyata, ada utusan dari Bani Nadir yang telah mendatangi pemimpin Bani Quraizhah dan membujuk mereka agar tak melawan, karena ada 10.000 pasukan sedang menuju Madinah, dan akan menghancurkan kaum Muslim.

Tentu saja, Bani Quraizhah yang telah menerima banyak kerugian dengan kemunculan supremasi baru di Madinah, membuat mereka setuju.

Alhasil, selain melanggar perjanjian, mereka juga mempersiapkan pasukannya di dalam benteng. Hal ini juga mengakibatkan konsentrasi pasukan muslim terpecah. Karena mereka terkepung dari dua sisi.

Untuk mengetahui lebih detail tentang penghianatan dan perang Bani Quraizhah, silahkan lihat di sini.

 

Akhir Perang Khandaq

Melalui gunung Sila (Sal’a), Rasulullah Saw mengawal pergerakan tentara Muslim dan juga mengawasi pergerakan pasukan musuh. Rasulullah Saw juga bermunajat di gunung Sila selama 3 hari, dan turunlah surat al-Ahzab.

Pasukan aliansi yang awalnya merasa di atas angin, karena mereka mendominasi di segala sisi. Mulai dari jumlah pasukan, stok pangan, dan kondisi mental pasukan. Mereka merasa tak perlu terburu-buru untuk menghancurkan pasukan Muslim. Walaupun pada awalnya, mereka merasa bingung dan kaget, dengan strategi parit itu. Karena, taktik seperti itu tak lazim bagi bangsa Arab.

Setelah 27 hari pengepungan Madinah (ada yang berpendapat 30 hari), di mana kondisi pasukan Muslim semakin menghawatirkan, karena pasokan pangan yang semakin menipis. Akhirnya, munajad Nabi Saw di gunung Sila terjawab.

Badai pasir yang entah datang dari mana, mulai menghancurkan tenda-tenda pasukan aliansi.

Di malam harinya, Nua'im bin Mas'ud al-Asyja'i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan aliansi, menuju camp pasukan Muslim.

Di sana, beliau berba’iat kepada Rasulullah Saw dan mengusulkan untuk memecah kesolidan pasukan aliansi, dengan menyebarkan berita palsu.

Tentu saja, hal itu disambut manis oleh Nabi Saw.

Di malam itu juga, Nua’im langsung menuju ke kabilah-kabilah Arab yang menderita kerugian, karena tak juga mendapatkan penghasilan, karena hanya berdiam diri di sini.

Nua’im mengatakan, jika hal ini sengaja dilakukan oleh Bani Nadir, untuk mengurangi dominasi mereka terhadap jalur perdagangan yang sepi, karena ditinggal untuk pengepungan ini. Sontak saja, hal itu membuat marah para kabilah-kabilah dagang Arab, yang telah menderita banyak kerugian.

Setelah terjadi pertengkaran pendapat di kubu kabilah Arab, Nua’im segera menuju ke Bani Nadir.

Di sana, beliau mengatakan, jika para kabilah Arab dari awal tak mempercayai Bani Nadir. Hal itu dibuktikan dengan serangan-serangan yang dilakukan kabilah-kabilah Arab. Di mana, serangan-serangan itu hanya terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang tak pernah menembus parit di depan kota Madinah itu.

Tentu saja kabilah Arab berfikir ingin menguras sumber daya Bani Nadir, agar mereka tak bisa mendominasi perdagangan, yang notabennya dikuasi Bani Nadir, di hari esok.

Selanjutnya, Nua’im juga menuju ke suku-suku lain, dengan cerita yang berbeda, agar mereka semua dapat terpecah belah.

Pada hari esoknya, mulailah terjadi perpecahan di dalam pasukan aliansi.

Beberapa kabilah dan suku mulai pergi meninggalkan camp yang telah hancur diakibatkan badai pasir kemarin.

Di hari berikutnya, hanya tersisa pasukan yang dipimpin Abu Sufyan, yang merasa enggan untuk kembali. Hal ini dikarenakan egonya yang tinggi, yang masih tak bisa menerima, jika pasukan besar yang dipimpinnya, gagal menakhlukkan kota Madinah.

Untuk mengetahui kisah dan perjuangan Nua'im bin Mas'ud al-Asyja'i, silahkan lihat di sini.


Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani Quraizah untuk mengadili mereka. Tentu saja, terjadi pertempuran di sana, hal ini tertacat dalam sejarah sebagai perang bani Quraizah.

Untuk melihat lebih detail tentang perang bani Quraizah, silahkan lihat di sini.

Pada akhirnya, kemenangan akhirnya berpihak pada pasukan Muslim. Walaupun, kondisi awal yang sangat tidak menguntungkan. Mulai dari jumlah pasukan yang sangat jauh selisihnya, jumlah pangan yang terpotong akibat penghianatan, dan hawa dingin yang begitu menusuk tulang.

Semua itu tak terlepas dari kehendak Allah Swt yang mengatur segalanya, atas Kuasa dan Kekuatan-Nya.

 

Wallohu’alam

 

  

Posting Komentar untuk "Sejarah Perang Khandaq"

Berlangganan via Email