Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perang Bani Qurayzhah

(reruntuhan perkampungan Bani Quraizhah/ Source:id.wikishia.net)



Perang Bani Quraizhah

Perang Bani Qurayzhah - Perang Bani Qurayzhah yang juga dikenal sebagai peperangan besar-besaran atas Bani Qurayzhah, kabilah Yahudi yang tinggal di bagian tenggara kota Madinah. Peperangan ini terjadi pada akhir Dzulqa’dah dan awal Dzulhijjah, pada pada tahun 5 Hijriyah (Februari-Maret 627 Masehi), beberapa hari setelah Perang Khandaq.

 

Penyebab perang Quraizhah

Bani Qurayzhah adalah salah satu dari tiga kabilah besar yang tinggal di Madinah bersama dengan Bani Nadir dan Bani Wail. Ketiganya telah mengusai wilayah Yatsrib sejak dahulu kala, hingga datangnya para Muhajirin dan Nabi Saw dari Makkah.

Karena menghalangi dakwah dan politik pemerintahan Rasulullah Saw, Bani Nadir dan Bani Wail diusir keluar Madinah menuju Oasis Khaibar. Sementara itu, Bani Qurayzhah diasingkan ke pinggiran Madinah, mengolah kebun-kebun kurma mereka.

Saat terdengar berita penyerangan dari aliansi kabilah suku Quraisy dan Bani Ghatafan, atas bujukan Nadir dan Bani Wail, Rasulullah Saw lalu membuat perjanjian dengan Bani Qurayzhah untuk melindungi kota Madinah.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang Perang Khandaq, silahkan lihat di sini.

Namun, tak kala pertempuran Khandaq dimulai, Bani Qurayzhah hanya meminjamkan peralatan perang untuk berjaga-jaga di Madinah. Dan juga, mereka mengingkari janji untuk mengangkat senjata untuk mempertahankan Madinah.

Menurut beberapa riwayat, Bani Qurayzhah sudah bernegosiasi dengan Bani Nadir, untuk ikut serja menyerang kaum Muslimin dari belakang. Sementara itu, pasukan aliansi akan menyerang lewat depan.

 

Kondisi di Madinah, sebelum perang Bani Qurayzhah

Diriwayatkan oleh Abdurrazâq dalam al-Mushannaf (5/368-373) dari mursal Sa’id bin al-Musayyib, penghianatan Bani Qurayzhah yang diprovokatori oleh Huyay bin Akhthab an-Nadhariy, terasa sangat menyakitkan.

Kala itu, umat Muslim sedang susah payah bertahan melawan pasukan aliansi, dan dari sisi belakang, mereka dikhawatirkan akan serangan dari Bani Qurayzhah. Hal ini ditambah dengan akibat penghianatan Bani Qurayzhah, stock logistik dan peralatan perang yang mestinya dikirimkan pada kaum Muslimin menjadi tak ada.

Untuk menjaga Bani Qurayzhah yang menusuk dari belakang, Rasulullah Saw memerintahkan 70 orang sahabat (ada riwayat 100 orang) untuk menjaga garis belakang.

 

Peristiwa saat terjadinya Perang Bani Qurayzhah

Setelah mendapatkan kemenangan dalam perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin pulang ke Madinah dan meletakkan senjatanya untuk istirahat. Namun, ketika Beliau sedang mandi di rumah Ummu Salamah radhyallahu ‘anha, Nabi Saw didatangi oleh Malaikat Jibril, dan mengatakan:

 

 قَدْ وَضَعْتَ السِّلَاحَ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَاهُ فَاخْرُجْ إِلَيْهِمْ قَالَ فَإِلَى أَيْنَ قَالَ هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ

 

“Kamu sudah meletakkan senjatamu? Demi Allah, kita belum (boleh) meletakkannya, keluarlah menuju mereka!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kemana?”

Jibril menjawab, “Ke arah sini.”

Jibril menunjukkan arah kampung Bani Quraizhah. (HR Bukhari no. 4117, kitab al-Fath; 15/293)

Menerima perintah ini, Rasulullah Saw bergegas dan menginstruksikan kepada para shahabat-nya untuk segera bergerak ke arah Bani Quraizhah. Bahkan, agar cepat sampai tujuan, Rasulullah Saw bersabda:

 

 لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

 

“Janganlah ada satu pun yang shalat ‘Ashar, kecuali (sudah berada) di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari no. 4119, kitab al-Fath; 15/293).

Sementara itu, dalam riwayat Imam Muslim no. 1770, disebutkan:

 

 لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الظُّهْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

 

“Janganlah ada satupun yang shalat Dhuhur, kecuali (sudah berada) di perkampungan Bani Quraizhah.”

Menyikapi perbedaan ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

“Sebagian Ulama mencoba memadukan dua riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berbeda di atas. Mereka mengatakan ada kemungkinan jika sebagian dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunaikan shalat Dhuhur sebelum intruksi itu diberikan. Sementara sebagian yang lain belum menunaikan shalat Dhuhur.

Untuk para shahabat yang belum menunaikan shalat Dhuhur, dikatakan, ‘Jangan ada satupun yang melaksanakan shalat Dhuhur’. Dan untuk para shahabat yang sudah menunaikan shalat Dhuhur, dikatakan, ‘Jangan ada satupun yang melaksanakan shalat ‘Ashar’.

Ada juga sebagian Ulama mengkonpromikannya, dengan mengatakan jika ada kemungkinan satu kelompok dari shahabat berangkat lebih dulu, sebelum yang lainnya.

Untuk kelompok pertama dikatakan, ‘Jangan ada satupun yang melaksanakan shalat Dhuhur’. Dan untuk kelompok kedua diakatakan, ‘Jangan ada satupun yang melaksanakan shalat ‘Ashar’.

Kedua metode ini tidak apa-apa.” (Fathul Bari, 15/294)

Dala kitab as-Siratun Nabawiyah Fi Dhau’il Mashadiril Ashliyyah, Rasulullah Saw berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah, bersama 3.000 pasukan. Setibanya di perkampungan Bani Quraizhah, pasukan kaum Muslimin melakukan pengepungan dan blokade, terhadap Bani Quraizhah.

Menurut pendapat yang lebih kuat, pengepungan ini berlangsung selama 25 hari sampai mereka menyerah.

 

Akhir Perang Bani Quraizhah

Menyikapi sikap Bani Quraizhah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melimpahkan penentuan jenis hukuman yang akan dijatuhkan pada Bani Quraizhah, kepada salah seorang pemuka dari Bani Aus. Karena, bani Aus dahulunya merupakan sekutu Bani Quraizhah.

Awalnya, mereka meminta kepada Rasulullah Saw untuk mengirimkan sahabat Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. Seorang sahabat yang sangat terkenal akan kelembutan hatinya, sama seperti watak penduduk Madinah. Namun, kelembutan hati Abu Lubabah tak terlihat bisa terlihat di sini.

Abu Lubabah merasa sangat kecewa dengan sikap Bani Quraizhah, yang telah melakukan penghianatan kepada umat Islam. Padahal saat itu, beliau menjadi wakil Rasulullah Saw di Madinah, saat perang Khandaq bergejolak. Oleh karena itu, Abu Lubabah merasa sangat dikecewakan, oleh sikap para Yahudi Bani Quraizhah yang tak berperasaan ini.

Untuk mengetahui siapa dan kisah Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, silahkan di sini.


Kemudian, Rasulullah Saw melimpahkan tanggung jawab itu kepada Sa’ad bin Mu’adz, yang saat itu tidak ikut serta ke perkampungan Bani Quraizhah, karena luka-luka yang beliau terima dalam perang Khandaq. Hal ini terjadi, atas kesepakan dengan Bani Quraizhah yang ternyata masih mengharapkan, jika sekutu lama mereka, Bani Aus, akan menyelamatkan mereka.

Ya, Sa’ad bin Mu’adz adalah pemuka dari Bani Aus yang sangat terkenal akan kebijakan dan lurusnya sikap beliau. 

Ketika beliau sudah mendekati pasukan kaum Muslimin, Rasulullah Saw berkata kepada kaum Anshar:

 

 قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ فَجَاءَ فَجَلَسَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هَؤُلَاءِ نَزَلُوا عَلَى حُكْمِكَ قَالَ فَإِنِّي أَحْكُمُ أَنْ تُقْتَلَ الْمُقَاتِلَةُ وَأَنْ تُسْبَى الذُّرِّيَّةُ قَالَ لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ الْمَلِكِ

 

“Berdirilah, (sambutlah) sayyid (pemimpin) kalian.”

Sa’ad mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan duduk. Lalu, Rasulullah bersabda,

‘Sesungguhnya, orang-orang ini tunduk kepada (keputusan) hukumanmu.’

Kemudian, Sa’ad mengatakan,

‘Hukum yang aku tetapkan yaitu; membunuh pasukan mereka, kaum wanita dan anak ditawan.’

Rasulullah Saw bersabda,

‘Engkau telah menjatuhkan sanksi kepada mereka, sesuai dengan sanksi Allah Azza wa Jalla’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Untuk mengetahui keputusan Sa’ad bin Mu’adz tentang Bani Quraizhah, silahkan lihat di sini.


Berdasarkan pendapat terkuat, jumlah pasukan Bani Quraizhah yang dihukum mati adalah 400 orang. Sementara itu, Imam Tabari mengutip 600-900 telah diekseskusi.

Ada juga Hadits yang tidak menyebutkan jumlah yang dibunuh, tapi ada keterangan jika semua laki-laki dan seorang wanita dibunuh. Seorang wanita itu dibunuh karena, dia telah membunuh satu tentara muslim, menggunakan batu/pisau.

Sementara itu, para wanita lainnya dan anak-anak dijual atau ditukar dengan senjata dan kuda.

Menurut Ibnu Katsir, QS Al-Ahzab ayat: 9-10 dan 26-27, menjelaskan tentang penyerbuan kaum Muslimin ke Bani Qurayzhah.

Untuk mengetahui siapa itu dan sejarah Sa’ad bin Mu’adz yang mengetarkan 'Arsy. Silahkan lihat di sini.


Hikmah yang bisa dipetik dari perang Bani Qurayzhah

1. Negara boleh mengambil keputusan keras, untuk membunuh orang yang melanggar perjanjian. Dan hingga saat ini, banyak negara yang menetapkan hukuman, untuk membunuh para pengkhianat bangsa mereka.

2. Imam Nawawi menyebutkan jika mayoritas para Ulama memandang Hadist tentang ‘Berdirilah, (sambutlah) sayyid (pemimpin) kalian’, bahwa berdiri untuk menyambut kedatangan orang yang memiliki keutamaan, itu dianjurkan.

3. Dalam menjalin setiap perjanjian, haruslah diupayakan untuk dipenuhi hingga akhir. Apabila tak bisa menepati janji, alangkah baiknya untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan wajibnya mengeluarkan ganti rugi, apabila ada kerugian yang disebabkan, tak kala perjanjian itu dibatalkan.

Wallohu’alam


Posting Komentar untuk "Sejarah Perang Bani Qurayzhah"

Berlangganan via Email