Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penghuni Surga yang Belum Pernah Shalat

Source: wikipedia.org


 

Ushairim, Pemuda dari Bani Abdul Asyhal

Ushairim - Di dalam As-Sirah an-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 3/40 diceritakan;

Diriwayatkan dari Ibnu Sufyan maula bin Abi Ahmad, bahwa Abu Hurairah bertanya kepada para sahabat,

"Ceritakan kepadaku, mengenai kisah seseorang yang masuk surga, padahal ia belum pernah shalat sekali pun, sepanjang hidupnya!"

Ternyata, para sahabat tidak ada yang mengetahui siapa pemuda itu.

Lalu, seorang sahabat balik bertanya,

"Siapakah dia?"

Abu Hurairah menjawab,

"Ushairim (dari) Bani Abdul Asyhal, (atau) ‘Amr bin Tsabit bin Waqsy."

 

Dalam riwayat lain disebutkan, suatu hari Abu Hurairah bertanya kepada para sahabat,

“Ceritakan kepadaku, megenai kisah seorang pemuda yang masuk surga, padahal sepanjang hidupnya, ia belum pernah menjalankan sholat sekalipun, (walau) sekali saja?”

Para sahabat menggelengkan kepala, karena memang belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Mereka saling berpandangan, dan kemudian balik bertanya kepada Abu Hurairah,

“Siapakah gerangan pemuda ini?”

Abu Hurairahpun menjawab,” Ushairim (dari) Bani Abdul Asyhal.”

 

Sementara itu, diriwayatkan jika Al-Hushain berkata,

"Aku bertanya kepada Mahmud, ‘bagaimana kehidupan Ushairim sebelumnya?’

Mahmud menjawab, ‘Sebelumnya, dia enggan memeluk Islam sebagaimana kaumnya. Namun kemudian, dia masuk Islam.’

 

Kisah Ushairim saat perang Uhud

Namanya adalah ‘Amr bin Tsabit, seorang pemuda dari bani ‘Abdil Asyhal. Bani ‘Abdil Asyhal sendiri mempunyai tokoh terkemuka, yang mengabdikan dirinya kepada Rasulullah Saw. Tokoh tersebut adalah Sa’ad bin Muadz, yang juga menjadi pemuka dari suku induk bani ‘Abdil Asyhal, yakni Bani Aus.

‘Amr bin Tsabit juga sering dipanggil dengan ‘Amr bin Uqaisy atau Ushairim. ‘Amr bin Tsabit pernah diajak memeluk Islam oleh Sa’ad bin Muadz. Namun, dia menolak, karena dia merasa jika agama itu menyalahi nenek moyangnya.

Dahulu, Ushairim juga memiliki harta yang banyak, kebun kurma yang luas, serta posisi yang tinggi di kaumnya.

Suatu ketika, datang lah waktu perang Uhud. ‘Amr bin Tsabit bertanya, “di mana anak pamanku?”

Semua orang pun menjawab, “Di Uhud.”

Dia kembali bertanya kepada orang yang berbeda, “Di manakah si fulan?”

“Di Uhud,” jawab salah seorang di kelompok itu.

“Lalu di manakah fulan (orang yang berbeda)?” Ushairim kembali bertanya.

“Di Uhud,” jawab mereka.

Mendengar jawaban tersebut, Ushairim bergegas menggunakan baju perangnya, menaiki kudanya, lalu menyusul pasukan Muslimin yang sedang menuju bukit Uhud.

Saat pasukan Muslimin melihatnya, mereka pun berkata “Menjauhlah engkau dari kami, wahai ‘Amr!”

“Aku telah beriman,” jawab Ushairim.

Maka, pasukan Muslimin pun mempersilahkannya untuk bergabung dengan pasukan. Kemudian, Ushairim bertempur dengan gigih, hingga beberapa bagian tubuhnya terluka parah.

Saat perang usai, di mana pasukan Muslimin telah mundur dan menghalau pengejaran dari pasukan Quraisy, orang-orang Bani ‘Abdul Asyhal mencari korban-korban peperangan dari kaum mereka. Tak mereka sangka, mereka menemukan ‘Amr bin Tsabit.

Mereka menatap lekat-lekat wajah ‘Amr, memastikan jika pemuda yang terluka itu adalah dirinya.

Mereka pun berkata, “Demi Allah ini adalah al-Ushairim!”

‘Amr pun dibawa menuju keluarganya, dengan keadaan terluka. Sa’ad bin Mu’adz lalu mendatangi saudarinya, (yang menjadi istri Ushairim) seraya berkata,

“Tanyakanlah kepada ‘Amr, apa yang menyebabkannya datang ke medan perang? Apakah dia berperang demi kaumnya, atau karena Allah dan Rasul-Nya?”

Lalu, ‘Amr pun menjawab, “Aku datang ke medan perang, karena ingin masuk Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku masuk Islam, lalu mengambil pedangku. Aku maju bersama Rasulullah, dan aku berperang hingga aku terkena serangan.”

 

Dalam riwayat lain disebutkan,

Ketika perang Uhud telah usai, Ushairim terlihat di medan perang dengan penuh luka. Lalu, kaumnya (Bani ‘Abdul Asyhal) bertanya,

“Ini adalah Ushairim, apa yang menyebabkan ia datang dalam peperangan ini? Bukankah dia tidak berkenan ikut serta dalam peperangan ini?”

Mereka mempertanyakan status Ushairim, mengapa berada dalam pertempuran ini.

“Wahai ‘Amr, apa yang menyebabkan kamu berada di sini. Apakah itu karena setia kepada kaummu, ataukah simpati kepada Islam?”

‘Amr pun menjawab, “Karena cintaku terhadap Islam, aku telah beriman kepada Allah dan Rasulullah. Kemudian, aku mengangkat senjataku dan aku berperang. Sehingga, keadaanku (menjadi) seperti ini.”

 

Diriwayat lainnya pula juga disebutkan,

Ketika teman-temannya dari Bani Asyhal, yang mencari para sahabat yang terbunuh di Perang Uhud. Tiba-tiba, mereka dikagetkan dengan jasad Ushairim yang terluka parah, tapi masih hidup.

Mereka bergumam dengan terkejut, “Ini Ushairim, kenapa ia datang ke sini? Bukankah sewaktu kita berangkat berperang, ia masih kafir (belum masuk Islam)?”

Lalu, mereka menanyakan langsung pada Ushairim.

“Wahai Ushairim, apakah engkau ikut mengangkat pedang karena suku-mu, atau karena senang terhadap Islam?”

Ushairim menjawab, “Bahkan aku senang (masuk) Islam, aku beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Aku masuk Islam, kemudian aku bergabung dengan Rasulullah untuk berperang. Kemudian, aku mengalami luka parah ini. Jika aku meninggal, maka semua hartaku untuk Muhammad, (silahkan) dipergunakan sekehendak hatinya.”

Kemudian, Ushairim meninggal.

 

Ketika hal ini dilaporkan kepada Rasulullah Saw, Beliau berkata, “Sesungguhnya, dia termasuk penghuni surga.”

Di kesempatan lain Rasulullah Saw bersabda. ‘Amalnya sedikit, tapi mendapat ganjaran (yang besar).”

 

Hikmah dari kisah Ushairim Bani Abdul Asyhal, ‘Amr bin Tsabit bin Waqsy.

Perlu diketahui, Hidayah itu merupakan hak mutlak milik Allah Swt, tiada seorang pun yang bisa menggunakannya. Sama seperti kisah Ushairim, di mana beliau mendapat hidayah, ketika kesempatan jihad fii sabilillah terbuka lebar.

Di sisi lain, seperti sabda Rasulullah Saw, jika amal dari Ushairim adalah sedikit. Namun, ia berhasil mendapatkan ganjaran yang besar, Surga. Hal ini terjadi, karena setiap orang yang masuk Islam, pastilah semua dosa-dosanya di masa lalu dihapuskan.

Rasulullah Saw bersabda, “Jika seseorang masuk Islam, maka ia seperti bayi yang baru lahir (suci tanpa dosa).”

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim, kita tak boleh menghakimi seseorang yang non-muslim, yang tak kunjung masuk Islam. Padahal, kita sudah berulang kali mendakwahinya.

Bahkan, hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya, kita tak bisa menghakiminya. Karena, siapa yang tahu jika seseorang non-muslim itu melakukan taubatan nasuha di akhir hayatnya? Atau, bagaimana kalau ia melakukan suatu kebaikan, setelah masuk Islam, saat kita tidak tahu. Kemudian, ia meninggal?

 

Wallohu’alam

Posting Komentar untuk "Penghuni Surga yang Belum Pernah Shalat"

Berlangganan via Email