Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i, Si Pemecah Barisan Musuh

Source: id.wikipedia.org




Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i

Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i - Nama lengkap beliau adalah Nu’aim bin Mas'ud bin Amir al-Asyja’i. Beliau merupakan seseorang yang terlahir di keluarga kabilah dagang, Bani Ghatafan. Beliau juga dikenal dengan Abu Salamah, yang berasal dari Kabilah Gahtafan.

Beliau hidup Makmur dan sejahtera di Najd, kota kecil di pinggiran kota Makkah.

Pada masa mudanya, Nu’aim dikenal sebagai seorang multi-talenta, yang bisa melakukan berbagai hal dengan sangat bagus. Hal ini juga membuat beliau mudah berbaur dengan khalayak ramai, terutama di kalangan kaum musyrikin dan kaum Yahudi di Madinah (pasca masuk Islam).

Nu’aim yang terlahir dari kelurga kaya di Bani Ghathafan yang terpandang, ia juga sering mengujungi kota-kota sekitar Najd untuk berdagang dan bersenang-senang. Hingga, dia pun cukup akrab dengan Kaum Yahudi yang tinggal di Yatsrib. Mulai dari Bani Nadir, Bani Wail, atau Bani Quraizhah mendekatinya, untuk mendapatkan dukungan dari keluarganya yang mempunyai posisi penting di Najd.

Pada saat dakwah yang dilakukan oleh Muhammad dan para sahabatnya gencar dilakukan di Makkah, Nu’aim merasa tak terganggu karena hal tersebut. Dia masih bisa berteman dengan para Muslimin kala itu.

Namun, saat Rasulullah Saw dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib dan mendirikan pemerintahannya di sana, barulah Nu’aim merasa terganggu dan terusik.

 

Peristiwa sebelum terjadinya Perang Khandaq

Perang Khandaq atau juga disebut Perang Ahzab, merupakan perang yang sangat genting dan pelik bagi kaum Muslimin. Awalnya, perang tersebut merupakan tindakkan perlawanan dari dua kaum Yahudi (Bani Nadir dan Bani Wail), yang telah terusir dari Madinah.

Alhasil, perwakilan Bani Nadir dan Bani Wail bertemu dengan para pemuka Quraisy di Makkah.

Huyayy bin Akhtab yang menjadi ketua rombongan para Yahudi di Khaibar, melakukan perjalanan ke Makkah dan bersumpah setia dengan Abu Sufyan. Karena mereka tahu jika Abu Sufyan yang menjadi salah satu tokoh tertinggi di Makkah, telah menderita kerugian yang sangat besar yang disebabkan kaum Muslimin. Penyergapan kaum Muslimin terhadap rombongan kafilah dagang miliknya saat ingin pergi ke Syam dan Yaman, membuat Abu Sufyan dan para pemuka lainnya mendapatkan kerugian besar.

Setelah berhasil membujuk dan mempersatukan kabilah-kabilah dagang di Makkah, Huyayy dan rombongan segera menuju ke kabilah terbesar yang memimpin wilayah timur Makkah, Bani Ghatafan.

Dengan kesepakatan jika kaum Yahudi Khaibar akan menyerahkan 1 tahun hasil panen kurma mereka ke Bani Ghatafan, akhirnya aliansi pasukan sebesar 10.000 tentara tercapai. Lalu, pasukan aliansi antara Kaum Yahudi Khaibar, Kaum Quraisy Makkah, dan Bani Ghatafan melakukan perjalanan ke Madinah.

 

Peristiwa saat terjadinya Perang Khandaq

Akhirnya, pasukan aliansi antara Kaum Yahudi Khaibar, Kaum Quraisy Makkah, dan Bani Ghatafan tiba di pintu masuk kota Madinah, yang diapit oleh dua gunung. Namun, betapa terkejutnya mereka, tak kala melihat ada parit besar dan dalam, yang memisahkan mereka dengan pasukan Muslimin di seberang sana, di depan kota Madinah.

Saat kondisi mental pasukan melemah, perwakilan dari Bani Nadir maju dan mengatakan,

“Kita juga memiliki sekutu di dalam kota Yatsrib. Janganlah kalian berkecil hati.”

Saat itu, terkuaklah rencana Bani Nadir untuk menghancurkan umat Islam tanpa tersisa. Dengan masuknya dukungan dari kaum Yahudi Bani Quraizhah yang tinggal di tenggara Madinah, strategi serangan depan dan belakang bisa mereka lakukan. Hanya tinggal waktu untuk menghancurkan umat Islam.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang Perang Khandaq, silahkan lihat di sini.

 

Peran Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i di Perang Khandaq

Diceritakan dari Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, di dalam Sirah Nabawiyah;

Pada hari ke-20 pasca meletusnya perang Khandaq, tak ada kemajuan signifikan yang dicapai pasukan aliansi. Semua ini karena parit besar yang tak ladzim digunakan di dalam peperangan Arab, menjadi masalah serius bagi pasukan aliansi.

Tak kala mereka melancarkan serangan dari berbagai sisi, panah pasukan Muslimin akan menghujani mereka. Andai mereka terus menerobos, stamina pasukan atau kendaraan yang dipakai akan habis, karena harus melewati parit berpasir itu. Ditambah pula, pasir di parit itu akan semakin panas tak kala siang hari, dan sangat dingin tak kala malam tiba.

Di sisi lain, Bani Quraizhah yang berada di belakang kaum Muslimin, mendapatkan tekanan dari pasukan penjaga Muslimin, yang mengelilingi perkampungan mereka. Bahkan, ketika mereka hendak keluar untuk menyerang, penjaga Muslimin akan langsung memerangi mereka.

Sehingga, tanpa adanya serangan signifikan dari barisan pasukan aliansi, pasukan Bani Quraizhah tidak mampu bergerak, kecuali mengirimkan para pembunuh.

Di kala keadaan terjepit itu, Allah Swt juga menolong kaum Muslimin dengan mendatangkan badai pasir dari arah barat pasukan aliansi. Pada hari ke-20 pengepungan tersebut, tenda-tenda dan kemah pasukan aliansi rusak tertiup badai. Kemudian, hal itu juga berdampak pada mental mereka yang mulai goyah. Karena, mereka tak bisa mendapatkan kemajuan yang berarti, yang telah mereka rencanakan sejak awal.

Pada malam harinya, Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i yang telah melihat jika tanda-tanda seperti ini tak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Di mana ada sekelompok orang bisa melindungi diri dari musuh di depan dan belakangnya, walaupun jumlah mereka sangatlah sedikit. Ide perang yang membuat parit besar, yang mana itu tak ladzim bagi bangsa Arab. Lalu, bagaimana alam membantu mereka dengan mengirimkan badai, yang tak seharusnya ada di musim dingin seperti ini.

Setelah Allah Swt memberikannya hidayah itu, Nu’aim merenung lalu memutuskan untuk menemui Rasulullah Saw secara diam-diam dan bersyahadat kepada Beliau Saw.

Usai bersyahadat, Nu’aim berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui tentang keislamanku ini. Maka, perintahkanlah kepadaku, apa pun yang engkau kehendaki."

Lalu, Rasulullah Saw bersabda, "Engkau adalah satu-satunya orang (yang bisa), berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu, karena peperangan ini adalah tipu muslihat."

Setelah mendapatkan perintah dari Rasulullah Saw, seketika itu pula Nu’aim pergi menemui Bani Quraizhah, yang sejak dulu adalah teman-nya.

Sesampainya di sana, beliau berkata, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dan kalian."

Mereka menjawab, "Engkau benar."

Nu’aim berkata, "Para Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Wilayah ini adalah wilayah milik kalian. Di sini harta benda, anak-anak, dan istri-istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan wilayah ini, untuk pindah ke tempat lain.

Sementara itu, Quraisy dan Ghatafan datang ke sini untuk memerangi Muhammad dan rekan-rekannya. Lalu, kalian memberikan dukungan kepada mereka. Padahal kalian tahu, wilayah, harta benda, dan wanita-wanita mereka berada di tempat lain.

Jika mereka merasa mendapat kesempatan lain, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan kembali ke wilayah mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad, yang akan melampiaskan dendam kepada kalian."

Mereka lalu bertanya, "Lalu, bagaimana seharusnya, wahai Nu’aim?"

Nu’aim menjawab, "Kalian tidak perlu berperang bersama mereka lagi, kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian."

Setelah itu, Nu’aim langsung pergi ke pasukan aliansi, menemui Quraisy dan Ghatafan. Lalu, dia menyebarkan isu yang serupa kepada mereka.

Beliau menyatakan jika setiap pihak yang ikut dalam peperangan ini telah menerima kerugian besar, karena jalur perdagangan mereka telah dikuasai oleh kabilah-kabilah yang tak ikut serta berperang. Atau, beliau berkata, jika Bani Nadir dan Wail yang menjadi ‘sponsor’ mereka, masih mendapatkan untung besar, dengan absennya mereka dari perdagangan.

Seperti halnya dengan apa yang dikatakan pada Bani Quraizhah, Nu’aim berkata, "Kalian tidak perlu berperang bersama mereka lagi, kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian."

Akhirnya, pasukan aliansi mulai termakan dengan tipu muslihat Nu’aim. Tepatnya malam Sabtu, bulan Syawal 5 H, kaum Quraisy, Ghatafan, dan Yahudi saling mengirimkan pesan, untuk meminta jaminan dan dukungan selama dan pasca perang.

Tapi, tak ada satupun kesepakatan yang tercapai. Hal ini dikarenakan, Allah Swt yang telah memberikan hati mereka keragu-raguan, dan juga mereka yang telah merasa dirugikan, tak ingin semakin merugi.

Dengan fakta tersebut, mereka saling mencurigai dan mempercayai perkataan Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i.

Nu’aim yang sukses memperdayai pasukan aliansi, menciptakan perpecahan di barisan kabilah Quraisy dan Bani Ghatafan. Sehingga, semangat mereka menjadi turun drastis. Terlebih lagi, dengan Bani Quraizhah yang tak menunjukkan pergerakan signifikan, untuk memulai serangan dari belakang barisan pasukan Muslimin.

Sementara itu, Rasulullah Saw dan kaum Muslimin selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan tenangkanlah kegundahan kami."

 

Diriwayat yang lain diceritakan,

Ketika pasukan Bani Ghathafan yang dipimpin oleh Uyaynah bin Hishn berangkat menuju Madinah, Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i ikut serta dalam pasukan ini. Selain karena kesepakatan dengan Bani Nadir yang akan memberikan hasil panen Khaibar selama satu tahun, keyakinan mereka akan kemenangan telah dijamin dengan satu hal penting lagi.

Bani Nadir yang telah menguasai Yatsrib di masa lalu, berhasil membujuk sepupu jauh mereka, Bani Quraidzah, untuk membatalkan perjanjian damai dengan kaum Muslimin.

"Kali ini, Muhammad pasti kalah," kata mereka, yang disambut dengan baik oleh para pemuka Bani Quraidzah.

Dengan serangan penjepit ini, tentu saja, kemenangan adalah hal yang sangat mudah. Terlebih lagi, dengan jumlah pasukan Muslimin tak sampai sepertiga dari jumlah pasukan aliansi antara Kaum Quraisy, Bani Ghathafan, dan kabilah-kabilah lain.

Sementara itu, di Yatsrib sendiri, berita tentang datangnya puluan ribuan pasukan dari Makkah dan Najd, dan pemutusan perjanjian sepihak oleh Bani Quraidzah yang terjadi sesudahnya, segera terdengar dengan cepat ke Madinah.

Para munafik yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin pun mulai membuka kedok mereka, dan mulai menurunkan moral kaum Muslimin.

Setelah itu, banyak dari mereka yang terang-terangan meninggalkan Madinah, dengan berbagai alasan. Seperti, takut keluarga mereka akan musnah, jika mendadak Bani Quraidzah menyerang. Ataupun, tidak mungkinnya pasukan muslim yang hanya berjumlah 3.000 pasukan, bisa menahan puluhan ribu pasukan aliansi.

Sampai pada suatu malam di hari ke-20 pengepungan Madinah, Rasulullah Saw yang berdoa di gunung Sila (Sal’a), mengadu kepada Allah Saw tentang kondisi pelik ini.

“Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu, sesuai dengan apa yang Engkau Janjikan.”

Sementara itu, di seberang parit yang luas, seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i, tengah berbaring dalam tendanya dengan gelisah.

Dia meyakinkan dirinya, apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. Namun, di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang salah.

"Sungguh, alangkah bodohnya diriku ini. Selama ini, hidupku dipenuhi dengan kesenangan yang menipu dan kegembiraan sesaat. Namun, mengapa kini aku melawan Muhammad, yang katanya bisa mengajarkan kehidupan yang dipenuhi ketenteraman yang abadi? Bukankah aku tak ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?”

Saat itu, Nu’aim mendapat hidayah Allah Swt.

Malam itu juga, dia memacu kudanya dan menuju ke pasukan Muslimin. Sesampainya di sana, dia meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah Saw, bukan sebagai musuh atau utusan. Dia ingin bertemu karena ingin memastikan kegundahan hatinya tersebut.

Ketika Rasulullah Saw melihatnya Nu’aim berdiri di hadapannya, Beliau Saw bertanya,

"Apakah engkau Nu’aim bin Mas'ud?"

"Benar, wahai Rasulullah," jawab Nu’aim.

"Apa yang mendorongmu datang ke sini, pada saat seperti ini?"

Nu’aim menjawab dengan sungguh-sungguh, "Aku datang untuk menyatakan pengakuanku. Tidak ada Tuhan selain Allah dan seusungguhnya engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku mengakui agama yang engkau bawa, itu sungguh benar adanya."

Kemudian, dia melanjutkan,

"Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui jika aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku, perintah apa saja yang dapat aku laksanakan."

Rasulullah Saw menjawab, "Engkau hanya seorang yang bisa. Kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka jika sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya, perang itu adalah tipu daya.”

“Baiklah, wahai Rasulullah. Insyaallah, Engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan.”

Setelah itu, Nu’aim segera berangkat menuju ke perkampungan Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya. Beliau berhasil meyakinkan mereka, untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah Saw.

Nu’aim berkata di tengah-tengah Bani Quraidzah, "Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) untuk memerangi Muhammad, sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu (Bani Ghathafan dan Kaum Quraisy), yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka, sebagai jaminan atas peperangan ini.

Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai wilayah ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka.”

Bani Quraizhah pun menerima saran itu.

“Engkau benar, Abu Salamah.”

Setelah itu, Nu’aim segera beranjak menuju ke pasukan Quraisy dan Ghathafan, yang ada di luar Kota Madinah.

Di sana, beliau segera menemui pimpinan pasukan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraisy lainnya.

Nu’aim merayu mereka, agar tidak melanjutkan serangan bersama, sampai mereka mendapatkan jaminan akan kerugian dan keberhasilan mereka dalam perang ini.

Nu’aim juga mengatakan, jika Bani Quraizhah menyesal, karena memutusan perjanjian dengan Muhammad Saw. Mereka juga akan membantu Rasulullah Saw untuk menghadapi pasukan aliansi.

Mendengar penjelasan Nu’aim, Abu Sufyan berkata, “Engkau adalah sekutu kami yang baik. Semoga engkau mendapat balasan yang baik pula.”

Setelah berhasil menyakinkan kaum Quraisy, Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i menuju ke kaumnya, Bani Ghathafan untuk melakukan hal yang sama, seperti yang ia lakukan pada Bani Quraizhah dan kaum Quraisy.

Setelah itu, datanglah pertolongan Allah Saw yang dijanjikan kepada Nabi-Nya.

Badai pasir datang untuk meluluh-lantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti hewan tunggangan pasukan aliansi. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan, dan pulang ke wilayah masing-masing.

 

Diriwayat lainnya pula diceritakan,

Setelah berhasil menghasut Bani Quraizhah dan Kaum Quraisy, Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i berlari menuju Bani Ghatafan.

Nu’aim pun mengabarkan jika Bani Quraizhah memutuskan tidak ikut berperang, dan menulis surat penyesalan karena menghianati perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Sementara itu, beliau juga mengatakan jika kaum Quraisy tidak akan berperang terlebih dahulu, jika pasukan Bani Quraizhah tidak menyerang terlebih dahulu. Hal yang sama, yang beliau ceritakan di tenda para pemuka Quraisy.

Setelah Nu’aim menghilang dan menuju barisan pasukan Muslimin, Abu Sufyan memerintahkan salah satu anggotanya untuk memastikan kebenaran ungkapan Nu’aim. Kemudian, utusan itu kembali mengatakan jika Bani Quraizhah tidak berperang, jika kaum Quraisy dan Bani Ghatafan tidak memberikan 70 tokoh mereka sebagai jaminan.

Tentu saja, hal ini membuat kaum Quraisy membenci Bani Quraizhah, yang mengatakan hal yang mustahil.

Hal yang sama juga terjadi di tenda Bani Ghatafan, yang telah kehilangan kepercayaan dengan kaum Quraisy dan Bani Quraizhah. Terlebih lagi, tiada kejelasan yang datang dari Bani Nadir dan Bani Wail yang menjadi sponsor perang mereka.

“Dan Allah mengusir orang-orang yang kafir itu, dengan keadaan mereka penuh kejengkelan. Mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).

 

Wafatnya Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i

Ketika Abu Sufyan mengetahui jika Nu’aim bin Mas’ud membawa panji Islam (dalam peperangan yang lain), ia mengatakan,

“Sungguh buruk apa yang diperbuatnya terhadap kita, di hari Khandaq. Dahulu, dia termasuk orang yang paling bermusuhan terhadap Muhammad. Sekarang, dia membawa panji-nya (Muhammad) di depan (kaum)-nya, dan berlalu untuk memerangi kita di bawah panji itu.”

Setelah peperangan Khandaq, Nu’aim bin Mas’ud menjadi orang kepercayaan Rasulullah Saw, dan mendapatkan beberapa amanah untuk membela agama Allah. Mulai dari berdakwah dikalangan kaumnya, Bani Ghathafan. Banyak kaum Ghathafan yang akhirnya masuk Islam, setelah mendengar dakwah Nu’aim.

Menjelang penaklukan Makkah/ Fathul Makkah, Nu’aim segera berbaiat kepada Rasulullah Saw, dan mengajukan pasukan Muslimin dari Bani Ghathafan di bawah komandonya.

Nu’aim bin Mas’ud pun mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam. Beliau juga memperjuangkan Islam dengan jiwa, raga, dan hartanya untuk menyebarkan agama Islam. Perjuangan Nu’aim terus berlanjut, bahkan setelah Rasulullah Saw wafat.

Nu’aim akhirnya wafat, di dalam perang Jamal di akhir masa ke khalifahan Ustman bin Affan atau di awal masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

 

Demikianlah kisah Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i, yang bisa kita petik hikmahnya. Hal ini juga menjadi petunjuk pada kita, jika di dalam masa perang, siasat atau berita palsu juga diperbolehkan, untuk mempertahankan dan menegakkan agama Islam.

 

Wallahu’alam


Posting Komentar untuk "Nu’aim bin Mas'ud al-Asyja’i, Si Pemecah Barisan Musuh"

Berlangganan via Email