Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keputusan Sa’ad bin Muadz pada Bani Quraizah

Source: wikipedia.org




Bani Quraizah yang berkianat pada kaum Muslimin

Sa’ad bin Muadz - Pada tahun 622 M (5 H), terjadi dua perang beruntun yang dilakukan kaum Muslimin.

Perang pertama terjadi, ketika kaum Yahudi dari Bani Nadir dan Bani Wail melakukan siasat dan bujuk rayu kepada para pembesar kaum Quraisy dan Bani Ghatafan untuk menyerang Madinah. Mereka beralasan, jika tindakan kaum Muslimin yang mencegat dan menjarah kafilah-kafilah dagang yang menuju Syam dan Yaman, sangat berbahaya.

Apabila tindakan ini terus didiamkan, maka kekuatan kaum Muslimin akan terus membesar dan mengambil alih eksistensi dari mereka. Tentu saja, para pembesar kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan merasakan bahaya itu. Karena, dia juga salah satu kafilah yang sudah beberapa kali dijarah oleh kaum Muslimin.

Tanpa menunggu waktu lama, pasukan aliansi antara kaum Quraisy, Bani Ghatafan, dan kabilah-kabilah lain pun berangkat menuju Madinah.

Di sisi lain, Bani Nadir yang hanya men-support pasukan aliansi dengan sumber pangan dan penyerahan hasil panen, melakukan kontak secara sembunyi-sembunyi dengan kerabat mereka, kaum Yahudi dari Bani Quraizah.

Perwakilan Bani Nadir dan Bani Wail ini mengatakan, jika apa yang dilakukan Muhammad Saw kepada mereka (diusir dari Madinah, dan menetap di Khaibar), akan juga terjadi kepada Bani Quraizah yang telah terpinggirkan secara perlahan atas dominasi di Madinah.

Tentu saja, para pemuka Bani Quraizah juga merasakan hal yang sama. Mereka khawatir atas tindakan kaum Muslimin yang menjarah tanah-tanah mereka, dan menuntut pajak dari mereka. Di mana, mereka dahulu bersama dengan Bani Nadir dan Bani Wail adalah penguasa di kota Yastrib ini.

Pada akhirnya, terjadilah perang Khandaq yang terkenal itu.

Mulanya, Bani Quraizah selalu memberikan alasan diulur-ulurnya bantuan pangan dan alat-alat perang yang dijanjikan dengan Muhammad Saw. Kaum Muslimin saat itu sudah menyadari gerak-gerik aneh dari Bani Quraizah ini, namun mereka harus menyisihkan hal itu, karena musuh mereka telah datang.

Lalu, ketika pecahnya perang Khandaq, beberapa pasukan Bani Quraizah mulai menyusup ke tenda-tenda kaum Muslimin untuk membunuh para tokoh-tokoh berpengaruh di sana. Tercatat, jika seorang wanita dari Bani Quraizah berhasil membunuh salah seorang sahabat senior.

Tentu saja, hal ini membuat kaum Muslimin semakin terdesak, karena mereka menyadari jika musuh tak hanya datang dari depan, melainkan dari punggung mereka juga.

Untuk mengatasi hal ini, Rasulullah Saw mengutus 1.000 orang sahabat untuk berpencar dan mengawasi Bani Quraizah.

Sebenarnya, Bani Quraizah ingin melakukan serangan terhadap kaum Muslimin, namun alur medan perang tak terjadi sesuai harapan mereka. Kaum Muslimin yang tergencet dari dua sisi, ternyata masih kokoh dan sulit ditembus.

Ternyata, hal ini disebabkan oleh ide absurd Salman al-Farisi tentang membangun parit besar di pintu keluar kota Madinah, di mana ide perang seperti itu tak ladzim bagi orang Arab kala itu.

Dan pada akhirnya, pasukan aliansi terpecah belah sendiri, ketika ada seorang sahabat yang baru saja masuk Islam, dan melakukan siasat untuk memperlemah kepercayaan di antara para kabilah-kabilah ini.

 

Perang dengan Bani Quraizah

Bani Quraizah juga harus ikut menanggung akibat kekalahan dari pasukan aliansi antara kaum Quraisy, Bani Ghatafan, dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Karena, mereka telah memutuskan untuk berkhianat terhadap Muhammad Saw.

Dugaan mereka tak meleset, setelah pasukan Muslimin bergerak dari medan perang Khandaq. 3.000 pasukan Muslimin yang telah bertempur di perang Khandaq, akhirnya mengepung perkampungan Bani Quraizah yang hanya memiliki 1.000 pasukan.

(Itu juga menjadi alasan lain, mengapa Bani Quraizah tak langsung menyerang pasukan Muslimin, yang memiliki pasukan lebih banyak dari mereka.)

Terjadi beberapa serangan di sana, hingga syahid-nya beberapa sahabat dan jatunya korban dari sisi Bani Quraizah.

Namun, setelah 25 hari, Bani Quraizah mulai kelelahan dan kehabisan pangan. Di sisi lain, Allah Swt juga menanamkan rasa takut di hati mereka. Sehingga, mereka menyakini jika pasukan Muslimin tak akan meninggalkan mereka sendirian.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang Perang Bani Quraizah, silahkan lihat di sini.

 

Perundingan dengan Bani Quraizah

Rasulullah Saw berkata kepada Bani Quraizah, “Apakah kalian ridha, dengan siapa pun orang yang memberikan hukum di antara kalian?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Maka, Beliau Saw berkata, “Serahkanlah (keputusan hukum ini) kepada Sa’ad.”

Dalam banyak kitab sirah disebutkan jika Bani Quraizah sudah tunduk kepada Nabi Saw, sebelum tunduk kepada hukum Sa’ad bin Muadz.

Alqamah bin Waqash meriwayatkan, tatkala kondisi dan situasi terasa berat bagi mereka (Bani Quraizah), seseorang memerintahkan,

“Tunduklah kalian kepada keputusan Rasulullah Saw!”

Tatkala mereka meminta petunjuk kepada Abu Lubabah (seseorang yang dipercayai Bani Quraizah), beliau menjawab:

“Kami tunduk kepada hukum Sa’ad bin Muadz.”

Setelah itu, menanggapi panggilan Rasulullah Saw, Sa’ad bin Muadz berkata,

“Dalam hal ini, aku memutuskan agar para tawanan (perang) dibunuh. Para wanita dan anak-anak disekap dan harta bendanya dibagi-bagikan.”

Ibnu Ishak menyebutkan, jika mereka disekap di rumah Bintu Harits, dan menurut riwayat Abul Aswad mereka disekap di rumah Usamah bin Zaid.

Dalam hadits, sahabat Jabir menyebutkan, jika mereka disekap di dua rumah.

Ibnu Ishak juga menambahkan, “Kaum Muslimin membuat parit, kemudian leher mereka dipenggal, dan darah mereka pun mengalir di parit-parit tersebut. Kemudian harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin.”


Demikianlah kisah tentang keputusan Sa’ad bin Muadz pada Bani Quraizah, yang telah menghianati perjanjian dengan kaum Muslimin, pada saat perang Khandaq.  

Untuk mengetahui tentang kehidupan Sa’ad bin Muadz yang menggetarkan 'Arsy, silahkan lihat di sini.

Sebagai pelajaran, hendaknya kita memenuhi janji apapun yang telah kita ikrarkan. Andaikata kita tidak bisa melakukannya, janganlah menusuk dari belakang atau pun menyebarkan kabar yang tak sesuai, demi keuntungan kita semata.

 

Wallohu’alam


Posting Komentar untuk "Keputusan Sa’ad bin Muadz pada Bani Quraizah"

Berlangganan via Email