Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Muadzin Muda yang Ingin Menandingi Bilal bin Rabbah

credit: gethub.io


Abu Mahdzurah, Pemuda yang Ingin Menandingi Bilal bin Rabbah

 

Abu Mahdzurah - Nama asli-nya adalah Aus bin Mughirah al-Jumahi. Dalam riwayat lain, Aus bin Rabi’ah bin Mi’yar bin Arij bin Sa’ad al-Jumahi atau Aus bin Mi'yar bin Laudzan al-Jumahi. Di riwayat lainnya lagi, bahwa namanya adalah Samrah bin Mi’yar atau Salmah atau Salman bin Mi’yar.

Namun, beliau lebih dikenal dengan nama Abu Mahdzurah (ابومحذوره). Seperti yang dijelaskan dalam kitab Al-Thabaqat al-Kubra, terjadi berbagai perselisihan dalam penentuan nama beliau dan ayahnya dalam kalangan para sejarawan. Hal ini disebabkan entah adanya kesalahan kepenulisan, atau kesalahan dalam pendektean. Sehingga, tak dapat dipastikan ketepatannya hingga sekarang.

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang nama aslinya. Satu riwayat mengatakan bahwa nama aslinya adalah, sedangkan riwayat lain mengatakan

Dalam sejarahnya, tidak dicatat sejara jelas, beliau lahir dan besar di mana. Hal ini tentu dikarenakan sedikitnya informasi yang diperoleh dan dapat dipertanggung-jawabkan. Namun, kiprah beliau mulai terlihat, tak kala terjadinya Fathul Makkah.

Kisah tentang bagaimana beliau terpilih menjadi muazin diceritakan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya dan Tabaqāt Ibnu Sa’ad.

Saat itu, Rosulullah Saw dan pasukannya berhasil membebaskan kota Makkah dengan melalui jalan damai. Lalu, Beliau menyuruh Bilal untuk naik ke atas ka’bah dan mengumandangkan adzan. Hal ini disebabkan, pasukan umat Muslimin memasuki Makkah pada saat menjelang dzuhur.

Sebagian pemuda Quraisy yang masih belum lapang dada untuk menerima Islam, menirukan suara Bilal. Mereka marah dan bermaksud mengejeknya, dengan menirukan seruan adzan tersebut. Sampai salah seorang pemuda yang bernama Abu Mahdzurah al-Jumahi meniru-niru adzan Bilal.

Pemuda 16 tahun itu termasuk orang Quraisy yang paling merdu suaranya, hal ini sudah menjadi buah bibir di sana. Maka, ketika dia mengangkat suara dan menirukan lantunan adzan Bilal untuk mengejeknya, beberapa orang mengetahui siapa pelakunya.

Perbuatannya ini membuat geram mayoritas dari para sahabat kala itu. Terlebih lagi, saat itu psikologi para sahabat lagi keras-kerasnya, sebab berada dalam posisi perjalanan pulang dari medan perang Hunain.

Perang melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada bulan Syawal tahun 630 M atau 8 H. Peperangan itu terjadi di sebuah jalan dari Mekkah ke Thaif, daerah kecil yang bernama Hunain.

Di saat suasana hampir pecah menjadi pertikaian atas ulah Abu Mahdzurah dan teman-temannya yang tertawa di atas lembah, Nabi Saw justru sangat tenang dan tersenyum, mendengar lantunan suara yang nyaring dan merdu dari sana.

Setelah Bilal menyelesaikan azannya, Nabi Saw memerintahkan beberapa sahabat untuk menghadirkan sekelompok remaja pembenci Islam itu di hadapan Beliau.

Lalu, dikumpulkanlah semua remaja itu di hadapan Nabi Saw.

Semua pemuda itu dalam keadaan takut dan mengira akan mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan tidak bermoral mereka barusan.

Rosulullah Saw memerintahkan satu per satu dari mereka untuk melantunkan azan. Lalu, tibalah giliran Abu Mahzurah.

Di sinilah Beliau mengenal dan mengetahui, jika orang yang baru saja menirukan azannya Bilal adalah Abu Mahdzurah.

Saat itu, Nabi Saw memerintahkan Abu Mahdzurah untuk mendekat. Beliau mendudukkan tubuh Abu Mahdzurah di antara kedua tangan Beliau. Lalu, Beliau melepas penutup kepala Abu Mahdzurah, dan menyentuh ubun-ubunnya dan berdoa:

 

اللهم بارك فيه واهده الى الإسلام

 

“Ya Allah, berkahi dia dan tunjukkanlah ia pada Islam.”

Doa ini diucapkan oleh Rosulallah Saw tiga kali. Kemudian, Beliau memerintahkan Abu Mahdzurah untuk menjadi Muazin di Mekkah.

Namun, Abu Mahdzurah menolak karena belum hafal, maka Nabi Saw menalqinkan/mendektekan kalimat Azan padanya, berikut juga Iqamah-nya.

Pengalaman menakjubkan ini membuat Abu Mahdzurah yang sebelumnya membenci Rosulallah Saw, menjadikannya cinta pada Beliau. Seiring berjalannya waktu, hatinya kian hari dipenuhi dengan kerinduan pada Nabi Saw dan tidak menyisahkan ruang untuk lainnya.

Abu Mahdzurah mengatakan,

“Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini jika Ia(Muhammad) adalah utusan Allah.” (as-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unfu Juz: 7 Hal: 239)

Bukti kecintaan itu dapat terlihat, ketika bagaimana Abu Mahdzurah menjaga dan mengkultuskan rambutnya, yang pernah disentuh oleh tangan mulia Rosulallah Saw, hingga akhir hayatnya.

Abu Nu’aim dalam kitab Ma‘rifat al-Sahābah juga menuliskan, sejak kejadian itu, Abu Mahdzurah tidak pernah memangkas rambut yang ada di area ubun-ubunnya. Hingga diceritakan, jika panjang rambut miliknya, terkepang dan menjuntai setengah badannya.

Abu Mahdzurah berkata:

 

والله لا احلق هذا الشعر حتي أموت

 

“Demi Allah, aku tidak akan memotong rambut ini, sampai aku mati.”

Dalam kitab al-Shifā bi Ta‘rīf Huqūq al-Mustafā, karya Qadhi Iyad disebutkan bahwa Shofiyah binti Najdah ra. (istri Abu Mahdzurah) menceritakan:

Abu Mahdzurah mempunyai rambut panjang di area ubun-ubunnya. Jika ia sedang duduk dan menjuntaikan rambutnya, maka rambut tersebut tentu menjulur menyentuh tanah.

Kami berkata padanya: “tidakkah engkau mencukurnya?”, namun ia menjawab:

 

لم أكن بالذي احلقها، وقد مسّها رسول الله بيده

 

“Aku tidak akan pernah menggunakan sesuatu yang membuatnya terpotong. Sebab, Rasulullah Saw pernah menyentuhnya dengan tangan mulianya.”

Dalam Siyar A’lām al-Nubalā’ volume 3 halaman 117, al-Dzahabi menceritakan jika Abu Mahdzurah adalah sosok sahabat dan muazin Rasulullah Saw. Dia memiliki suara merdu yang nyaring, dan ditugaskan oleh Rasulullah Saw menjadi Muazin di Baitul Haram, Makkah.

Jadilah Abu Mahdzurah orang pertama yang mengumandakan adzan, setelah Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Beliau terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram, hingga akhir hayatnya. Dan beliau juga dimakamkan di Kota Makkah.

Kemudian, posisi muadzin yang kosong, dilanjutkan oleh keturan-keturunannya untuk waktu yang lama. Ada pendapat yang mengatakan, hingga masa Imam asy-Syafi’i.

 

 

Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Mahdzurah mengenai azan dan iqamah sangat berharga, khususnya menjadi sumber penting bagi para fuqaha/ahli fiqih dalam menetapkan hukum azan dan iqamah.

 

1. Lafadz adzan, dari Hadist Abu Mahdzurah

 

a. Lafadz adzan sejumlah 17 kalimat yaitu:

2x takbir

2x syahadatain, yang diulang dua kali = 8 kalimat

2x hayya ‘ala as shalat

2x hayya alal falah

2x takbir

1x kalimat tauhid

Inilah adzan menurut pendapat Imam Malik, yang didasarkan pada hadits riwayat Abu Mahdzurah:

 

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ عَلَّمَهُ هَذَا الْأَذَانَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ يَعُودُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ مَرَّتَيْنِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ مَرَّتَيْنِ زَادَ إِسْحَقُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

 

Dari Abu Mahdzurah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya adzan dengan:

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

 

Kemudian mengulang, lalu membaca:

 

(2x) أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

  (2x) حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

 

Dan (membaca) حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ dua kali.

 

Lalu ditutup dengan menambahkan bacaan:

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

 

b. Lafadznya 19 kalimat yaitu:

 

4x takbir

2x syahadatain dengan tarji (diulang dua kali = 8 kalimat)

2x hayya ‘ala as shalat

2x hayya alal falah

2x takbir

1x kalimat tauhid.

Inilah yang dijadikan pedoman oleh Imam Syafi’i. Dalilnya ialah hadits Abu Mahdzurah:

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ الْأَذَانَ تِسْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً وَالْإِقَامَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً

 

Sesungguhnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya adzan 19 kalimat dan iqamah 17 kalimat.

Hal ini dijelaskan dalam riwayat lain dari Abu Mahdzurah, yang berkata:

 

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي سُنَّةَ الْأَذَانِ فَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِي وَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ تَرْفَعُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ تَخْفِضُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالشَّهَادَةِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

 

Artinya:

Aku berkata: “Wahai Rasulullah. Ajarilah aku sunnah adzan.”

Lalu, Beliau memegang bagian depan kepalaku dan berkata:

“Ucapkanlah dengan suara perlahan

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

 

Kemudian, keraskanlah suaramu dalam membaca syahadat:

 

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ .حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ. حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

 

Jika shalat Subuh, katakanlah:

 

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

 

Lalu:

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

 

Ibnu Abdil Bar berpendapat mengenai perbedaan jumlah kalimat dalam adzan. Beliau mengatakan:

“Ahmad, Ishaq, Dawud, dan Ibnu Jarir berpendapat, ini termasuk khilaf yang mubah. Karena, takbir yang (jumlahnya) empat dalam qoul pertama atau dibuat dua kali (dalam qoul kedua), atau dengan tarji’ dalam syahadat atau tidak, iqamah dibuat dua-dua atau satu-satu semuanya, kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ . Semuanya boleh.”

 Wallohu'alam.

Posting Komentar untuk "Muadzin Muda yang Ingin Menandingi Bilal bin Rabbah"

Berlangganan via Email