Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adzan Terakhir Seseorang yang Merindukan Kekasihnya

credit: wikipedia.org


Sahabat Bilal bin Rabbah, Muadzin Pertama di Dunia


Bilal bin Rabah - Bilal bin Rabah (Arab: بلال بن رباح ) Nama lain: Bilal al-Habsyi, Bilal bin Riyah, Ibnu Rabah, hidup sekitar 580 - 640 Masehi.

Bilal lahir di daerah as-sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabbah, yang seorang budak. Sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena kondisi ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-sauda (putra wanita hitam).

Bilal adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethiopia). Beliau dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah), sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar.

Saat ayahnya meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum Quraisy.


Kondisi Bilal bin Rabbah, saat cahaya Islam datang

Ketika Mekah dihebohkan dengan kemunculan seseorang yang menjadi Rasul Saw, yang menyerukan kalimat Tauhid, Bilal adalah kelompok orang yang pertama memeluk Islam, walau statusnya masih menjadi seorang budak.

Saat Bilal masuk Islam, hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu. Seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-shiddiq, Ali bin Abu Thalib, Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-rumi, dan Al-miqdad bin al-aswad.

Setelah majikannya mengetahui jika Bilal masuk Islam, maka beliau disiksa terus menerus oleh majikannya setiap hari, agar keluar dari Islam.

Bahkan, beliau merasakan penganiayaan dari orang-orang Quraisy. Mekkah, yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun beliau, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Berbeda dari Mukminin seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib yang masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka, mustadh ‘afun (orang-orang yang tertindas) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun.

Sehingga, orang-orang Quraisy menyiksa mereka tanpa rasa belas kasihan. Para Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran, bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.


Penyiksaan kaum Quraisy terhadap Bilal bin Rabbah

Kaum yang tertindas itu (mustadh ‘afun) disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang.

Seperti, Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Dia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung lemah itu. Dan akhirnya, gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti.

Apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekkah berubah menjadi ‘perapian raksasa’ yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka, dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik.

Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu juga mencambuk tubuh mereka, sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh para mustadh ‘afun itu sampai batas untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Namun, Sahabat Bilal, semoga Allah meridhainya… berbeda.

Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan, jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf (tuannya), bersama para algojo. Mereka menghantam punggung Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad (Allah Maha Esa).”

Mereka menindih dada Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad.”

Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad.”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan Uzza, tapi Bilal justru memuji dan mengagungkan Allah dan Rasul-Nya.

Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.”

Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher beliau dengan tali yang kasar, lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak beradab dan anak-anak agar menariknya di jalanan. Mereka menyeretnya di sepanjang Abthah Mekkah (Pelataran Ka’bah).

Sementara itu, Bilal terus menikmati siksaan yang diterimanya, karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Beliau terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad, Ahad, Ahad, Ahad.”

Beliau terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.


Merdekanya Bilal bin Rabbah

Kisah ini sangat terkenal dalam literasi Islam, di mana Bilal dibawa ke tengah lapang gurun pasir, kemudian ditidurkan dan ditindih dengan batu besar yang harus diangkat dua orang kekar.

Namun, Bilal tetap berpegang teguh kepada Islam, dan tidak mau kembali kepada kekafiran dan tetap melantunkan "Ahadun Ahad, Ahadun Ahad...", meskipun terus menerus disiksa oleh majikannya.

Lalu, Abu Bakar rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Dia mengira, Abu Bakar tidak akan mau membayarnya.

Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas/ 900 dinar. Setelah transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar satu uqiyah pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberitahu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, bahwa beliau telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Saw. berkata kepada Abu Bakar,

“Kalau begitu, biarkan aku bermitra denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Karena, kaum Quraisy mulai menyerang secara radikal, setelah berakhirnya perjanjian Hudaibiyyah, dan meninggalnya kedua pelindung Rasulullah Saw. Yaitu Paman beliau, Abu Thalib dan Istri tercinta, Siti Khadijah Al-kubro.

Hingga, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, untuk menghindari serangan-serangan kaum Quraisy.

Mereka segera berhijrah dengan bergelombang-gelombang, termasuk Bilal.


Kehidupan Bilal bin Rabbah di kota Madinah

Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam/syair kerinduan dengan suaranya yang jernih.

“Duhai malangnya diriku, akankah suatu malam nanti, aku bermalam di Fakh (daerah) dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah, Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil?”

Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu merindukan Mekkah dan perkampungannya, merindukan lembah dan pegunungannya.

Karena di sanalah, beliau merasakan nikmatnya iman. Di sanalah, beliau menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah, beliau berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan aman, jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya.

Kini, beliau mencurahkan perhatian dan pengabdiannya untuk menyertai kekasihnya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Bilal selalu mengikuti Rasulullah Saw. ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat, maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah ibarat bayangan, yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.


Kisah ditunjuknya Bilal bin Rabbah menjadi Muadzin di Masjid Nabawi

Ketika Rasulullah selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adanya seruan adzan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (mu’azin) dalam sejarah Islam.

Merujuk buku Ash-Shuffah (Yakhsyallah Mansur, 2015), setidaknya ada empat alasan mengapa Bilal diangkat menjadi penyeru adzan untuk umat Islam, untuk yang pertama kalinya.

Pertama, Bilal memiliki suara yang lantang dan merdu. Mungkin ini menjadi faktor pertama, mengapa Rasulullah memberikan tugas kepada Bilal untuk menjadi muadzin pertama dalam Islam.

Dikisahkan, jika siapapun akan bergetar hatinya, manakala mendengar Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan atau membaca Al-Qur’an.

Kedua, Bilal sangat menghayati kalimat-kalimat adzan.

Ketika Bilal masih menjadi budak Umayyah bin Khalaf, dia disika dengan siksaan yang sangat keras agar keluar dari Islam. Namun, beliau bergeming dan terus mengucapkan ahad, ahad, ahad.

Pengangkatan Bilal sebagai muadzin pertama, juga merupakan penghargaan kepadanya. Mengapa?

Karena apa yang diucapkan Bilal ketika disiksa (ahad, ahad, ahad), memiliki unsur persamaan dengan kalimat-kalimat adzan, yaitu mentauhidkan atau meng-esa-kan Allah Swt. 

Ketiga, Bilal memiliki kesiplinan yang tinggi, saat mengumandangkan Adzan, lima kali dalam sehari semalam.

Karena waktu shalat fardhu yang ditetapkan, diperlukan orang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk mengemban tugas sebagai muadzin. Dan Bilal bin Rabah adalah orang yang memiliki kedisplinan yang tinggi itu. 

Keempat, Bilal memiliki keberanian. Untuk mengumandangkan adzan pada masa-masa awal dakwah Islam, diperlukan keberanian yang tinggi. Terlebih lagi, umat Islam di Madinah saat itu belum menjadi mayoritas. Sehingga, ada banyak ancaman yang akan datang, dari para pembenci dakwah Islam.

Maklum saja, prinsip tauhid yang ada dalam kalimat adzan tentu saja bertentangan dengan kondisi masyarakat pada saat itu, di mana kemusyrikan dan penolakan terhadap Islam masih kencang.

Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya berseru, “Hayya alashsholaati hayya alashsholaati” (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan.) Lalu, ketika Rasulullah keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Jika kamu ingin mengetahui amalan-amalan yang membuat sahabat Bilal menjadi istimewa, tentang Amalan-amalan Bilal bin Rabbah yang dirindukan surga, silahkan lihat di sini.


Kisah Sahabat Bilal bin Rabbah saat perang melawan kaum Quraisy

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya, kepada Rasulullah Saw.

Kemudian, Rasulullah mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khattab. Tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal.

Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Beliau juga membawanya dalam dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat istisqa (mohon turun hujan), dan menancapkan tombak itu di hadapan beliau, saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal bin Rabbah juga menyertai Nabi Shalallahu alaihi wasallam dalam Perang Badar. Beliau menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong 313 Mukminin dengan tentara-Nya.

Juga, beliau melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya. Beliau melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur di tanah, ditembus pedang kaum muslimin. Dan, darahnya mengalir deras, karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa di masa lalu.


Kisah Bilal bin Rabbah saat Fathul Makkah

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan kota Mekkah, dalam Fathul Makkah, Beliau berjalan di depan ‘pasukan hijau’-nya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah.

Saat masuk ke Ka’bah, Rasulullah Saw. hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah dan putra dari kekasihnya (Zaid bin Harits), dan Bilal bin Rabah, Mu’azin yang dipilih Rasulullah.

Akhirnya, waktu shalat Dzuhur tiba.

Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, yang mana masuk dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu.

Pada saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah memanggil Bilal bin Rabbah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana.

Bilal melaksanakan perintah kekasihnya dengan senang hati, lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya, dan ribuan lidah menyahuti kalimat adzan yang dikumandangkannya. Tapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad/dengki di dalam dadanya.

Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat. Tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.”

(Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.)

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku, dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.”

(Kebetulan ayahnya meninggal, sehari sebelum Rasulullah dan pasukan Muslimin masuk ke kota Mekah.)

Sementara al-harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja, sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka bah.”

AI-Hakam bin Abu al- Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka bah).”

Sementara itu, Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat. Maka, itu pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”


Kisah wafatnya kekasih Bilal bin Rabbah

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah hidup. Selama itu pula, Rasulullah sangat menyukai suara yang selalu melantunkan “Ahad, Ahad” (Allah Maha Esa), walaupun disiksa dengan berat.

Namun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, atau 8 Juni tahun 632 Masehi, kabar duka menyelimuti seluruh umat Islam, karena Sang Utusan Terakhir telah meninggalkan mereka yang masih hidup.

Sesaat setelah Rasulullah Saw. mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.

Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Beliau tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Karena mengingat, jika sang kekasih sudah tak lagi di sisinya.

Kaum muslimin yang hadir di sana juga tak kuasa menahan tangis. Maka, meledaklah suara isak tangis di seluruh penjuru kota, yang membuat suasana semakin kelabu.

Sejak kepergian Rasulullah, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), beliau langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan yang pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah sebagai pemimpin/ khalifah, agar diperkenankan untuk tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya.

Selain itu, Bilal juga meminta izin kepada Abu Bakar untuk keluar dari kota Madinah, dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, Abu Bakar merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal, sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah. Namun, Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku. Tapi, jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu karena Allah, dan aku memerdekakanmu, juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.”

Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Beliau tinggal di daerah Darayya, yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.


Kisah adzan terakhir Bilal bin Rabbah

Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan sejak wafatnya Rasulullah Saw. Hingga suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, Seraya menegurnya:

"Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? (Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?)".

Dengan kejadian mimpi itu, beliau pun bangun dan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rosululloh. Kedatangan beliau disambut Umar ibnul Khattab (yang menjadi Khalifah, menggantikan Abu Bakar), setelah terpisah cukup lama.

Setiba di pelataran Masjid Nabawi, Bilal tidak dapat menahan rindu dan kesedihannya pada Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kemudian, datang cucu Rosululloh; Sayyidina Hasan dan Husein.

Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu tercinta Rosululloh tersebut.

Salah satu cucu Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Bilal:

"Paman, Maukah engkau sekali saja mengumandangkan Adzan untuk Kami? Kami ingin mengenang Kakek Kami."

Umar bin Khattab juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, Meski hanya sekali saja.

Dengan perasaan berat, lalu Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu sholat tiba, beliau naik pada tempat yang dahulu biasa ia tempati untuk mengumandangkan adzan, pada masa Rosululloh masih hidup. Dan, mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz “Allohu Akbar” dikumandangkan olehnya, Mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semuanya terkejut.

Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan, telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illolloh”, Maka seluruh isi kota Madinah berlarian ke arah suara itu, sambil berteriak. Bahkan, para gadis dalam pingitanpun mereka keluar menuju ke arah suara yang berkumandang.

Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rosululloh”, Maka, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rosululloh. Umar bin Khattab lah yang paling keras tangisnya. Bahkan, Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu, Madinah mengenang masa saat masih adanya Rosululloh di antara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rosululloh wafat. Itulah adzan Bilal yang tak bisa dirampungkan karena tak sanggup lagi menahan kesedihan.

Setelah kejadian itu, Bilal menetap tinggal di Damaskus hingga wafat pada tahun 20 H. Beliau satu di antara 3 muadzin Rasulullah Saw, yaitu Bilal bin Rabah, Abu Mahdzurah al-Jumahi, dan Abdullah bin Ummi Maktum.

Wallohu’alam



Sumber:

https://docplayer.info/32012448-Bibliografi-dan-latar-belakang-bilal-bin-rabah-al-habashi-ra-muazin-pertama-dalam-sejarah-islam.html

Posting Komentar untuk "Adzan Terakhir Seseorang yang Merindukan Kekasihnya"

Berlangganan via Email