Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Shalat Istikharah: Hukum, Waktu Terbaik, dan Hikmah Menunaikannya





Hukum, Waktu Terbaik, dan Hikmah Menunaikan Shalat Istikharah

Hidup merupakan sebuah pilihan, kata-kata tersebut sering kita dengar baik dari ucapan seorang motivator maupun para trainer dalam seminar-seminar. Ungkapan ini merupakan sebuah renungan yang mendalam dan bermakna dalam kehidupan.  

Seorang yang telah memantapkan pilihannya maka ia harus bisa bertanggung jawab atas keputusannya. Seorang laki-laki yang memilih untuk bekerja, maka ia harus bertanggung jawab atas pekerjaannya. Anak muda yang kuliah mengambil jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir berarti ia memilih untuk tidak mengambil jurusan yang lain, dan seterusnya.

Nah, dalam keadaan ragu, bingung, dan khawatir salah dalam memilih, kita dianjurkan mengerjakan shalat istikharah. Lalu, bagaimana hukum, waktu terbaik, serta hikmah setelah mengerjakan sholat istikharah?

Hukum Menunaikan Shalat Istikharah

Kita sering mendengar perkataan bahwa melaksanakan shalat istikharah hukumnya sunnah. Untuk lebih menguatkan keyakianan kita bahwa shalat tersebut merupakan kesunnahan yang disyari’atkan dalam Islam, maka kita harus mengetahui dasarnya. 

Para Ulama empat madzhab sepakat bahwa hukum dari menunaikan shalat istikharah adalah sunnah. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من سعادة ابن آدم إستخارة الله عز وجل

Diantara kebahagiaan anak Adam adalah beristikharah kepada Allah Aza wa Jalla” (HR. Ahmad)

Ulama juga mengambil dasar kesunnahan melakukan shalat istikharah pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ’anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajari kami Istikharah dalam memutuskan segala sesuatu, (sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إ ِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

 “Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan), maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at -selain sholat wajib-, kemudian bacalah :

         للَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي. قَاَل - وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al Baihaqi dan yang lainnya)

Paparan di atas merupakan pendapat ulama serta hadist yang paling masyhur yang menjadi ketetapan bahwa hukum melaksanakan shalat istikharah adalah sunnah.

Namun, adapula sebagian ulama yang berpendapat bahwasannya shalat istikharah hukumnya wajib. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama madzhab Dhahiriyyah yang mengambil dasar dari redaksi sebuah hadist yang berbunyi:
فليركع ركعتين
“Kerjakanlah shalat dua rakaat”

Kaidah yang dipaparkan oleh madzhab Dhahiriyah yaitu: Jika ada sebuah perintah dari Allah subhanahu wa ta'ala dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam, maka hukumnya wajib untuk dilaksanakan.

Maksudnya, ketika seseorang sedang berada dalam kebingungan untuk memutuskan atau melaksanakan suatu perkara, maka ia memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat istikharah agar diberikan yang terbaik oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Waktu Terbaik Menunaikan Sholat Istikharah

Semua orang yang berdo’a pasti menginginkan terkabulnya do’a yang dipanjatkan. Bahkan, sering kali meminta bantuan orang yang diyakini lebih alim dan taat beribadah untuk mendo’akan hajatnya atau mewakili shalat istikharahnya.

Bolehkah kita mewakilkan sholat istikharah pada orang lain? Untuk lebih jelasnya, cek postingan ini:

Pada dasarnya memanjatkan doa bisa kapanpun. Tidak ada batasan waktu yang terlarang untuk memanjatkan do’a termasuk berdo’a dengan niat istikharah. 

Secara umum, para ulama menjelaskan shalat istikharah sama seperti shalat sunnah biasa. Yakni dilaksanakan dengan dua rakaat dan langsung salam. 

Tidak ada waktu khusus untuk melaksanakannya. Namun, tidak boleh dilaksanakan pada waktu yang dilarang. Alasannya yaitu karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang melakukan rangkaian ibadah shalat sunnah di waktu terlarang.

Melakukan shalat Istikharah pada waktu-waktu mustajabah adalah paling utama dan baik. Waktu tersebut adalah pada malam hari, tepatnya di sepertiga malam terakhir.

Sebagian ulama Syafi’iah mengatakan bahwa shalat istikharah ini bisa dilakukan kapanpun tanpa ada batasan waktunya. Rangkaian shalat ini dianggap sebagai shalat Dzawat Asbab (yang mempunyai sebab), sehingga boleh dilakukan kapanpun.

Lantas, setelah melakukan shalat Istikharah, apa tanda-tanda jawaban dari Allah? Simak jawabannya di link berikut : Petunjuk Hasil Shalat Istikharah

Hikmah Menunaikan Sholat Istikharah

Hikmah bagi orang yang menunaikan shalat istikharah diantaranya dimudahkan segala urusannya, dijauhkan dari hal-hal yang buruk, dan digantikan dengan hal-hal yang baik. 

Sebagaimana orang tersebut telah memanjatkan do’a kepada Allah subhanahu wa ta'ala, jika hal yang ia minta baik maka akan dimudahkan dan diberi keberkahan. Sementara jika hal yang ia minta ternyata hal yang buruk, maka mohonlah kepada Allah untuk diganti dengan hal yang lebih baik.

Dalam menunaikan shalat istikharah, ada dua nilai-nilai yang dikandungnya.

Pertama, nilai ibadah nafilah. Maksudnya, shalat istikharah merupakan ibadah yang hukumnya sunnah. Kedudukannya di bawah ibadah wajib tapi dapat menjadi penyempurna ibadah wajib.

Semakin banyak amalan sunnah yang kita laksanakan, maka semakin banyak pula keuntungan yang kita dapatkan untuk menjadi bekal di akhirat kelak.

Kedua, shalat istikharah memiliki nilai takwa dan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dalam menjalani serba-serbi kehidupan ini, kita semua pastinya sangat memerlukan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Karena pada hakikatnya segala yang terjadi dan menimpa kita ada dalam kuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.

Maka sebagai manusia biasa, seharusnya kita selalu melakuan intropeksi diri (muhasabatun nafsi) serta mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah).

Niatkan shalat istikharah sebagai jalan menuju ketakwaan karena Allah dan karena perintah Rasul Nya semata. Insyaallah kita akan diberikan jalan keluar yang terbaik dari setiap permasalahan.

Wallahu a’lam bis showab...

Posting Komentar untuk "Shalat Istikharah: Hukum, Waktu Terbaik, dan Hikmah Menunaikannya"

Berlangganan via Email