Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Macam-macam mahram dalam Islam



Siapa saja mahrammu?


Mahram/ محرم adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya. Entah karena sebab keturunan, persusuan, dan pernikahan di dalam syariat Islam.

Secara garis besar, mahram terbagi menjadi dua.

1. Mahram muabbad/ محرم المؤبد adalah golongan mahram yang tidak boleh dinikahi selamanya. 

2. Mahram muaqqot/ محرم المؤقت adalah golongan mahram yang tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja. Jika kondisi ini hilang, maka golongan ini menjadi halal untuk dinikahi.


Mahram muabbad

Golongan mahram ini terbagi menjadi tiga kelompok:

a. Mahram karena keturunan
  1. Ibu, ibunya ibu (nenek), ibunya ayah (nenek), ibunya nenek (buyut), hingga terus ke atas.
  2. Anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki (cucu), anak perempuan dari anak perempuan (cucu), anak perempuan dari cucu laki-laki atau perempuan (cicit), hingga terus ke bawah.
  3. Saudara perempuan (kakak atau adik), seayah seibu, seayah saja, seibu saja.
  4. Saudara perempuan ayah (bibi), bibinya ayah, bibinya kakek, hingga terus ke samping.
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), bibinya ibu, bibinya nenek, hingga terus ke samping.
  6. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan), baik saudara seayah-seibu, seayah, atau seibu.
  7. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), baik saudara seayah-seibu, seayah, atau seibu.
b. Mahram karena pernikahan

1. Istri ayah (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan terus ke atas 
    *Dengan catatan sang ayah atau sang kakek telah bergaul suami-istri dengannya.
2. Istri anak (menantu), istri cucu, hingga terus ke bawah. 
    *Meskipun sang anak atau cucu baru sekadar akad dan belum bergaul suami-istri, itu tetap dianggap mahram. 
    *Berbeda jika status “anak” atau “cucu” tersebut adalah anak angkat. 
    *Sehingga boleh hukumnya menikah dengan anak angkat dari mantan istri.
3. Ibu istri (mertua), nenek istri, hingga terus ke atas. 
    *Meskipun baru sekadar akad nikah dengan anaknya, belum bergaul suami-istri, itu tetap dianggap mahram.
4. Anak perempuan istri (anak tiri), anak perempuan dari anak tiri (cucu tiri). 
    *Dengan catatan, ibu si anak tersebut telah dicampuri/dijima’.   

c. Mahram karena sepersusuan

1. Ibu persusuan, adalah seorang perempuan yang menyusui Anda. Termasuk ibunya ibu persusuan (nenek), hingga ke atas.
2. Anak perempuan dari Ibu persusuan (saudara persusuan)
3. Saudara perempuan dari Ibu persusuan (bibi persusuan)
4. Ibu dari suami Ibu persusuan (nenek)
5. Saudara perempuan dari suami Ibu persusuan (bibi persusuan)
6. Saudara perempuan persusuan, yaitu perempuan yang disusui oleh Ibu persusuan Anda.
   *Dikecualikan jika saudara perempuan persusuan Anda ingin menikah dengan saudara laki-laki Anda, yang mana tidak menjadi satu Ibu persusuan dengan Anda. 
   *Maka itu dihalalkan.
7. Anak perempuan dari saudara laki-laki persusuan (keponakan).
8. Anak perempuan dari saudara perempuan persusuan (keponakan).
9. Bibi persusuan, yakni perempuan yang menyusu bersama ayah Anda.
10. Bibi persusuan, yakni perempuan yang menyusu bersama ibu Anda.
11. Istri lain dari suami Ibu persusuan
12. Anak perempuan persusuan, yakni anak perempuan yang menyusu kepada istri Anda.
    *Sehingga Anda menjadi ayah persusuannya. 


Mahram muaqqot

1. Adik/kakak ipar.
Artinya, tidak boleh menikah dengan seorang perempuan, sekaligus menikahi saudara perempuannya dalam waktu bersamaan. Entah bersaudara karena nasab ataupun persusuan, entah dalam satu akad, maupun akad yang berbeda.
Jika pernikahannya dilakukan dalam satu waktu, maka batallah pernikahan keduanya. Ataupun, jika pernikahannya dilakukan dalam waktu pernikahan yang kedua. Maka, batallah pernikahan yang kedua.
Kecuali, jika perempuan yang pertama meninggal atau setelah dicerai dan habis masa iddahnya. Maka, saudara perempuanya boleh dinikah.   
2. Bibi istri.
Alasannya, tidak boleh menikahi seorang perempuan, sekaligus dengan bibinya atau keponakannya.   
3. Perempuan dari pernikahan kelima.
Artinya, tidak boleh menikahi perempuan kelima, sebab dia sudah menikahi empat perempuan.
Kecuali, jika salah seorang dari empat istrinya meninggal dunia atau dicerai.  
4. Perempuan musyrik penyembah berhala.
Adalah, perempuan yang tidak memiliki kitab samawi (Taurat dan Injil). Namun, bila perempuan itu memiliki kitab samawi atau perempuan itu sudah memeluk Islam, maka ia boleh dinikah.   
5. Perempuan bersuami.
Tidak boleh seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang bersuami, dan masih menjadi istri sahnya.
Namun, bila suaminya meninggal dunia atau menceraikannya dan masa iddahnya sudah habis, maka boleh dinikah.   
6. Perempuan yang masih menjalani masa iddah.
Baik dari iddah wafat maupun iddah cerai. Setelah masa iddahnya habis, maka ia boleh dinikah.
7. Perempuan yang telah ditalak tiga.
Tidak halal bagi seorang suami merujuk atau menikahi kembali istrinya yang telah ditalak tiga. Sampai, istrinya itu dinikahi oleh laki-laki lain (muhallil), dengan pernikahan yang sah dan sesuai syariat.
Kemudian, suami kedua atau muhallil itu menceraikan istrinya dan masa iddah dari perceraian itu telah habis. Jika itu sudah terpenuhi, maka suami pertama boleh menikahinya kembali dengan akad yang baru.
8. Wanita yang sedang ihrom
Tidak halal menikahi perempuan yang sedang ihrom, sampai ia tahallul (menyelesaikan prosesi hajinya)

Wallohu'alam

Posting Komentar untuk "Macam-macam mahram dalam Islam"

Berlangganan via Email