Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salman Al Farisi, Sahabat dari negeri Persia

credit: telegraph



Salman Al-Farisi


Salman al-Farisi - Salman Al-Farisi memiliki nama asli Mabah bin Budakhsyan bin Mursilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Syahrak. Salman lahir dari Desa Jayyun, Kota Isfahan, Persia yang mayoritas penduduknya beragama Zoroaster. 

Ayahnya adalah seorang kepala desa di sana, dan seorang Majusi (penyembah api). Namun, sejak berumur 12 tahun, Salman telah goyah terhadap keyakinan leluhurnya tersebut.

Hingga suatu hari, Salman Al-Farisi diperintahkan oleh ayahnya untuk menjalankan satu tugas di satu tempat. Kemungkinan adalah untuk mengantarkan barang atau menyampaikan pesan kepada seseorang.

Di tengah perjalanan, Beliau bertemu dengan orang-orang Nasrani sedang menjalankan ibadahnya. Salman mulai tertarik dengan agama itu. Karena, dari cara mereka melakukan ritual ibadah, hingga proses melakukannya. Beliau merasakan sesuatu di dalam hatinya.

Lalu, Beliau bertanya kepada sang pendeta, perihal agama Nasrani; dari mana agama tersebut berasal dan kepada siapa ia bisa belajar agama itu lebih dalam.

Sejak saat itu, Salman Al-Farisi mulai melakukan pengembaraan, untuk memenuhi dahaga spiritualnya. Memperdalam agama Nasrani ke daerah-daerah yang lebih maju. Apalagi setelah mendapatkan wasiat dari pendeta yang ditemuinya itu, Beliau pergi berkelana menuju Syam, Irak, dan Amuriyah (bagain dari wilayah kekuasaan Romawi Timur).


Kisah hidup Salman Al Farisi bertemu Nabi Muhammad Saw


Perjalanan Salman Al-Farisi ke Makkah

Hingga suatu ketika, ada seorang pendeta di wilayah Amuriyah yang memberikan kabar mengejutkan kepada Salman, perihal akan datangnya Nabi baru dari bangsa Arab.Seorang Nabi yang diutus, dengan agama yang sama dengan Nabi Ibrahim. Berita yang diterimanya itu sangat menguncang batinnya, yang tengah mencari-cari kepuasan dahaga spiritualnya.

Kemudian, beliau mulai mencari informasi tentang Nabi itu.

Hingga suatu malam, Salman Al-Farisi menghampiri sekelompok kafilah dagang yang sedang beristirahat. Kafilah dagang itu berasal dari tanah Arab, tepatnya kafilah Bani Kalb.Setelah menjalin kesepakatan untuk untuk membawanya ke negeri Arab. Salman akan memberikan harta benda yang dimilikinya, sebagai imbalannya. Namun, di tengah perjalanan mereka mengkhianati beliau.

Salman Al-Farisi dijual kepada seorang Yahudi, ketika sampai di satu wilayah di sekitar daerah Yatsrib, Wadi Al-Qura (perbatasan antara Suriah dan Madinah), .

Sepupu dari majikan Salman, kemudian membeli beliau yang kini menjadi seorang budak, dan membawanya ke Madinah.


Bertemunya Salman Al-Farisi dengan Nabi Saw

Hingga suatu hari, Salman Al-Farisi mendengar majikan barunya ini, membincang tentang datangnya seorang dari Makkah, yang mengaku sebagai Nabi. Entah perasaan bahagia apa yang menjalar di tubuhnya. Seperti padang pasir yang dihujani air terus-menerus. 

Karena penuh dengan rasa penasaran, Beliau mencari tahu keberadaan Nabi baru tersebut, dan berhasil menemukannya.

Sebagaimana yang beliau ketahui dari pendeta Nasrani yang menceritakan tentang ciri-ciri Nabi baru tersebut; tidak menerima sedekah, hanya menerima hadiah, dan memiliki ‘cap kenabian’ di punggungnya. Beliau memastikan semua itu ada pada Muhammad bin Abdullah.

Salman baru menyatakan keimanannya, setelah pertemuan ketiga dengan Nabi Muhammad Saw. Setelah Salman yakin dengan tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad Saw tersebut. Namun, masalah Beliau tak selesai di situ saja.


Usaha Salman Al-Farisi pasca masuk Islam


Kisah Merdekanya Salman Al-Farisi

Setelah menjadi seorang Muslim, Nabi Muhammad Saw kemudian meminta Salman al-Farisi untuk membuat perjanjian dengan majikannya, di mana Beliau akan 'merdeka', kalau berhasil melunasi sejumlah harta yang disepakati. 

Kepada majikannya, sebagaimana dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Salman al-Farisi  akan menanam 300 benih pohon kurma dan memberikan 40 uqiyah, sebagai harga yang harus dibayar untuk kemerdekaannya. Dan sang majikan menyetujui itu.

(1 uqiyah setara dengan 119 gram perak. Jadi, 40 uqiyah sama dengan 4,76 kg perak)

Nabi Muhammad Saw lantas memerintahkan para sahabat lainnya untuk membantu Salman al-Farisi, mengumpulkan 300 benih pohon kurma.

Setelah terkumpul, Nabi Saw meminta Salman untuk membuat lubang-lubang di tanah, untuk menanam ratusan benih pohon kurma tersebut. Nabi Muhammad Saw, Salman, dan para sahabat lainnya mulai menanam benih pohon kurma tersebut, satu per satu ke dalam lubang yang sudah dipersiapkan.

Satu persyaratan telah terpenuhi, namun masih ada satu tugas lagi. Salman al-Farisi harus memberikan 40 uqiyah kepada majikannya.

Beberapa saat setelah itu, Nabi Muhammad mendatangi Salman al-Farisi dengan membawa emas sebesar telur ayam. Salman menerimanya, dan kemudian membayarkannya kepada sang majikan.

Maka sejak itu, Salman al-Farisi menjadi manusia yang merdeka, dan tak lagi menyandang status budak.


Peran Salman Al-Farisi di Perang Khandaq

Dalam peperangan ini, umat Muslim sedang terkepung dengan berbagai masalah. Mulai dari selisih pasukan yang tak pernah bisa dilalui jumlahnya, penghianatan dari kaum Yahudi di Madinah, dan juga pengepungan selama satu bulan penuh.

Di sini, ide dari Salman al-Farisi untuk membuat parit, yang tak ladzim dalam taktik perang di dunia Arab, membalikkan keadaan. Umat Muslim akhirnya bisa sedikit bernafas, dan akhirnya bisa memenangkan perang, akibat ide brilian Salman ini.

Untuk mengetahui bagaimana kejadian dan sejarah Perang Khandaq, silahkan lihat di sini.


Peran Salman Al-Farisi pasca Rasulullah Saw wafat

Pada era kekhalifahan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, beliau ditunjuk sebagai Amir wilayah Madain. Salman hendak menolak penunjukan ini, karena beliau memang sudah tak berminat lagi pada jabatan dan kekayaan. Beliau hanya ingin tetap dekat dengan Kekasihnya, Rasulullah Saw, di Madinah ini.

Namun, atas desakan Umar bin Khattab, beliau akhirnya menjadi Amir di Madain, hingga masa pensiunnya. Hal yang menakjubkan adalah, beliau tetap bersikap wara', zuhud, dan rendah hati, ketika menjabat sebagai Amir. Hal ini sungguh memikat penduduk Madain, yang notabennya tak pernah bertemu Rasulullah Saw, untuk semakin mantap terhadap agama Islam.


Wafatnya Salman Al-Farisi

 

Salman al-Farisi wafat pada tahun 33 H/654 Masehi. Beliau wafat pada umur 88 tahun di era pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Beliau meninggalkan tiga orang putri; satu orang di Isbahan dan dua orang lagi di Mesir.

Makam Salman al-Farisi masih dapat dijumpai di Yerussalem, yang menjadi wilayah otoritas Yordania. Makam itu terletak di atas Gunung Zaitun, di dalam sebuah masjid kecil.

Sejarawan dan wisatawan mengenal situs ini sebagai Carob Tree Mausoleum. Tempat ini awalnya adalah sebuah gua bawah tanah, yang kemudian dibangun megah pada tahun 1910.

Pada tahun 1926, dibangun sebuah masjid dan menara di arena tersebut. Masjid tersebut kemudian diperluas pada tahun 1991, hingga menjadi masjid yang ada seperti sekarang.


Kisah-kisah lain dari Salman Al-Farisi


Kisah cinta Salman Al-Farisi

Kisah berikutnya adalah, saat Sahabat Salman al-Farisi melamar seorang gadis ansor. Beliau meminta bantuan sahabatnya, Abu Darda, untuk menjadi juru bicara beliau. Dalam bahasa modern, Abu Darda diminta untuk menjadi 'makcomblang' Salman, yang kurang lihai dalam berbahasa Arab.

Namun, jawaban si gadis mengejutkannya. Beliau ternyata harus merelakan gadis ansor itu untuk sahabatnya, yang telah menemaninya dalam melamar gadis ansor itu. Bagaimana sikap Salman al-Farisi dalam rangka menanggapi hal ini?

Untuk mengetahui tentang perjalanan kisah cinta Salman al-Farisi, silahkan lihat di sini.


Kisah malam pertama Salman Al-Farisi dengan Istrinya

Kisah ini bermula, ketika Salman al-Farisi yang baru saja melangsungkan akad nikah dengan seorang gadis, putri dari saudagar kaya di Madinah. Beliau sebagai seorang yang baru saja melepas masa lajangnya, lalu asyik bercengkrama dengan para sahabatnya.

Hingga di larut malam, beliau baru pulang menuju rumahnya. Sesampai di dalam rumah, beliau takjub dengan semua jawaban Istrinya yang begitu memukau. Beliau yang awalnya marah karena tak juga dibukakan pintu rumahnya, menjadi semakin cinta terhadap istrinya.

Untuk mengetahui kisah tentang malam pertama Salman al-Farisi dengan istrinya, silahkan cek di sini.


Kisah Salman Al-Farisi, yang menjadi pemimpin yang zuhud dan rendah hati

Di zaman pemerintahan Umar bin Khattab ra. Salman diangkat sebagai Amir di wilayah Madain. Di sana, beliau sangat hidup sederhana. Bahkan, semua gaji beliau sebagai seorang Amir, selalu diberikan kepada kaum duafa dan fakir miskin.

Bahkan, beberapa kali sikap zuhud beliau ini menipu banyak orang. Terutama bagi para pedangang dan tamu yang berasal dari luar Madain.

Bagaimana kisah Salman al-Farisi, pemimpin yang zuhud dan rendah hati, silahkan dilihat di sini


Seperti itulah kisah lengkap Salman al-Farisi mulai dari masa kecilnya, hingga masa beliau masuk Islam, dan menjadi pejuang dalam perang Badar. Dan jasa-jasanya yang begitu banyak, terutama dalam perang Khandaq. Hingga pada masa-masa beliau menjadi amir di Madain.

Wallohu'alam

Posting Komentar untuk "Salman Al Farisi, Sahabat dari negeri Persia"

Berlangganan via Email